Yang Terhormat, Bapak Tri Tharyat, Direktur Jenderal, Kemlu,
Ina Hodge, UN Trade and Development
Para perwakilan terhormat dari Pemerintah Indonesia,
Rekan-rekan dan mitra sekalian.
Selamat pagi,
Merupakan sebuah kehormatan bagi saya berada di sini hari ini ketika kita bersama-sama meninjau temuan dari Indonesia eTrade Readiness Assessment, sebuah upaya kolaboratif yang dipimpin oleh UNCTAD bersama Kementerian Luar Negeri serta banyak di antara Anda yang hadir di ruangan ini.
Izinkan saya mengawali dengan mengucapkan terima kasih kepada semua pemangku kepentingan atas kontribusinya terhadap transformasi digital Indonesia, demi memastikan bahwa manfaat dari e-commerce dan perdagangan digital bersifat inklusif dan berkelanjutan.
Hal ini sangat penting karena Pemerintah memandang digitalisasi sebagai penggerak transformasi ekonomi dalam mendukung SDGs dan jalur pertumbuhan tinggi sebagaimana digariskan oleh Presiden.
E-trade merupakan aset besar bagi Indonesia dengan ekosistem start-up yang kuat dan bonus demografi pemuda.
Separuh dari penduduk Indonesia berusia di bawah 30 tahun, dengan kaum muda menghadirkan basis konsumen yang melek teknologi serta tenaga kerja dinamis yang mahir memanfaatkan teknologi digital, termasuk AI.
Yang sama pentingnya adalah tingkat penetrasi internet, yang pada tahun 2030 akan menjangkau setiap rumah tangga. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang lebih cepat, mengingat saat ini baru satu dari lima orang Indonesia yang melakukan pembelian daring.
Saya sangat menyambut baik fokus asesmen ini pada solusi pembayaran digital untuk inklusi keuangan, mendukung kesiapan UKM dalam e-commerce lintas batas, serta pemanfaatan teknologi untuk mengamankan transaksi digital.
Ini merupakan prioritas utama dalam Indonesia-UN Cooperation Framework yang menjadi panduan bagaimana sistem PBB menyelaraskan sumber daya dan keahliannya untuk mendukung tujuan pembangunan nasional Indonesia.
eTrade Readiness Assessment menjabarkan bagaimana teknologi digital dapat membuka peluang transformatif untuk mempercepat pertumbuhan e-commerce yang berkelanjutan.
Termasuk di dalamnya adalah menghubungkan komunitas terpencil di seluruh nusantara dan membuka jalur baru bagi perempuan, kaum muda, dan penyandang disabilitas dalam ekonomi digital.
Hal yang sama penting adalah pemberdayaan UMKM yang mencakup 99% dari seluruh perusahaan.
Meskipun memiliki peran ekonomi yang menonjol, UMKM kerap menghadapi tantangan untuk dapat bersaing dalam ekonomi digital dan berpartisipasi secara efektif dalam e-commerce lintas batas.
Asesmen ini memberikan peta jalan praktis untuk menggali potensi besar dalam pemberdayaan digital UMKM, perempuan, dan kelompok rentan di seluruh kepulauan yang beragam dan dinamis ini.
Penting juga ditekankan perlunya mendorong logistik hijau dan praktik e-commerce ramah lingkungan agar perdagangan digital dapat berkontribusi pada tujuan iklim dan pembangunan.
Badan-badan PBB menghadirkan keahlian mutakhir dan nasihat kebijakan untuk mendukung transformasi digital Indonesia, termasuk optimalisasi penggunaan satelit untuk pertumbuhan digital.
WHO dan UNDP telah mendukung pengembangan platform teknologi sebagai bagian dari Satu Sehat untuk logistik distribusi 118 juta dosis vaksin dan obat-obatan esensial.
UNESCO telah mengembangkan AI Readiness Assessment Methodology untuk mengidentifikasi peluang dalam investasi infrastruktur, pendidikan, dan sosial-ekonomi guna menjembatani kesenjangan digital.
Global Pulse telah memanfaatkan teknologi satelit untuk memodelkan dampak kenaikan permukaan laut dan mengidentifikasi lokasi dapur optimal bagi program makanan bergizi nasional.
Ke depannya, Tim PBB di Indonesia tetap berkomitmen mendukung transformasi digital Indonesia dalam rangka mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Kami menantikan kerja sama dengan Anda semua untuk mewujudkan masa depan digital yang tidak meninggalkan siapa pun.
Terima kasih.