Daniel Simanjuntak, Direktur Jenderal Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, Kementerian Luar Negeri,
Para perwakilan Pemerintah yang terhormat,
Rekan-rekan dan para mitra,
Merupakan suatu kehormatan dapat bergabung bersama Anda pagi ini untuk meluncurkan Kajian Perdagangan Digital Indonesia, sebuah upaya kolaboratif yang dipimpin oleh Kementerian Luar Negeri, UNCTAD, dan banyak pihak yang hadir di ruangan ini.
Indonesia tengah mengalami salah satu transformasi digital paling dinamis di kawasan.
E-commerce telah menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan sosial dan ekonomi, membentuk cara bisnis berkembang, layanan diberikan, dan masyarakat saling terhubung.
UMKM kini menjangkau konsumen di seluruh nusantara, dengan hampir satu dari dua pelaku usaha (40%) terlibat dalam penjualan daring.
Pembayaran digital juga memperluas inklusi keuangan melalui lebih dari 37 juta merchant yang telah menggunakan QRIS di seluruh Indonesia.
Pada saat yang sama, ekosistem teknologi yang dinamis, ditopang oleh ekonomi digital senilai 90 miliar dolar AS, berkontribusi terhadap daya saing nasional dan regional Indonesia.
Assessment ini hadir pada momen yang sangat penting, ketika Indonesia berupaya memperdalam kapabilitas digitalnya sekaligus memastikan manfaatnya dirasakan secara luas, aman, dan berkelanjutan.
Seperti disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal UNCTAD dalam sambutan videonya, untuk mewujudkan potensi penuh perdagangan digital dibutuhkan kebijakan yang kuat, sistem yang terpercaya, serta akses yang merata terhadap infrastruktur dan keterampilan.
Rekomendasi dalam Kajian Perdagangan Digital ini memberikan peta jalan yang praktis dan berorientasi ke depan—mengingat transformasi digital Indonesia nyata, cepat, dan luar biasa, namun belum sepenuhnya selesai.
Yang terpenting, assessment ini menempatkan manusia sebagai pusatnya, dengan menekankan pemberdayaan UMKM, perempuan, pemuda, penyandang disabilitas, serta pelaku usaha informal.
Assessment ini juga menyoroti dimensi penting keberlanjutan lingkungan, menunjukkan bagaimana logistik hijau dan praktik e-commerce ramah lingkungan dapat mendukung ambisi iklim Indonesia dengan mengurangi emisi dan limbah, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi.
Seiring Indonesia bergerak dari tahap analisis menuju implementasi, Anda dapat terus mengandalkan dukungan keluarga besar PBB, dengan memanfaatkan keahlian di seluruh ekosistem digital.
Dalam hal infrastruktur konektivitas, ITU bekerja sama dengan institusi nasional untuk meningkatkan pemetaan broadband dan menguji solusi konektivitas satelit guna memperluas akses digital ke wilayah yang belum terlayani secara memadai.
Bekerja langsung dengan pelaku usaha, ILO mendukung koperasi di berbagai rantai nilai utama, termasuk susu, rumput laut, dan nilam, untuk mendigitalisasi sistem usaha mereka.
Secara paralel, FAO, ITC, dan UNDP memperkuat aspek keberlanjutan dan ketertelusuran digital pada komoditas sawit, kopi, kakao, dan beras—sebuah fondasi penting bagi keterlibatan Indonesia yang efektif di pasar perdagangan global.
Keberhasilan transformasi digital Indonesia dalam mendorong pertumbuhan lebih lanjut tidak hanya bergantung pada kebijakan yang kuat dan selaras, tetapi juga pada kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, sektor swasta, dan para pekerja di ekonomi informal. Upaya bersama ini sangat penting untuk memastikan bahwa manfaat digitalisasi dirasakan secara luas dan adil.
Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Luar Negeri atas kepemimpinannya, kepada berbagai kementerian dan pemangku kepentingan yang telah berkontribusi, serta kepada UNCTAD atas kerja yang mendalam, partisipatif, dan berorientasi ke depan.
Semoga dialog hari ini menginspirasi kita untuk memperkuat kemitraan, mempercepat inovasi, dan memastikan transformasi digital yang siap menghadapi masa depan—yang menempatkan Indonesia sebagai pemimpin digital di ASEAN dan di tingkat global.
Terima kasih.
Kajian Perdagangan Digital Indonesia dapat diakses di https://unctad.org/system/files/official-document/dtlecde2026d1_en.pdf