Press Release

Hari Hutan Internasional 2021: Restorasi hutan pulihkan kesehatan, ekonomi dan kesejahteraan manusia

23 March 2021

Hari ini kita memperingati Hari Hutan Internasional di tengah pandemi global COVID 19 di Indonesia dan di seluruh dunia

Hari ini kita memperingati Hari Hutan Internasional di tengah pandemi global COVID 19 di Indonesia dan di seluruh dunia. Saat ini, kita menyadari bahwa kesehatan merupakan hal yang amat penting.  Kita ingin membangun semua dengan lebih baik untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) pada tahun 2030. Hutan dalam kondisi baik juga berkontribusi bagi kesehatan manusia.  

Hutan memberikan manfaat kesehatan bagi semua orang, seperti udara segar, makanan bergizi, air bersih, dan ruang rekreasi. Di negara maju, hingga 25 persen dari semua obat-obatan berasal dari sumber nabati; di negara berkembang, kontribusinya mencapai 80 persen. 

Caption: Agricultural landscape in the Ciwidey Forest, West Java
Photo: © Trenchard, Richard FAO Indonesia

Hutan juga menyediakan pangan sehat. Masyarakat Adat biasanya mengonsumsi makanan dalam jumlah besar yang dipanen di hutan. Kita semua juga mengonsumsi makanan yang bersumber dari hutan seperti Nangka, durian, salak, duku, mangga, rambutan, petai, ati hati, dan banyak lagi makanan lain yang berasal dari hutan! 

"Kerusakan hutan merusak kesehatan lingkungan dan manusia - serta meningkatkan emisi karbon dan mengurangi keanekaragaman hayati. Kita harus ingat bahwa hampir sepertiga dari penyakit menular baru terkait dengan perubahan penggunaan lahan seperti penggundulan hutan." Kata Richard Trenchard,  Kepala Perwakilan  FAO  untuk Indonesia ad interim.  

Caption: Agricultural land on the slope of the Ciwidey forest, West Java
Photo: © Trenchard, Richard FAO Indonesia

Dunia kehilangan 10 juta hektar hutan setahun - lebih dari setengah luas Sulawesi - dan degradasi lahan mempengaruhi hampir 2 milyar hektar, sebuah wilayah yang lebih luas dari Amerika Selatan. Deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan meningkatnya gas rumah kaca, dan menyebabkan lebih dari delapan persen tumbuhan hutan dan lima persen hewan hutan berada pada “risiko sangat tinggi” kepunahan. 

Pemerintah Indonesia merilis data terbaru yang menunjukkan bahwa laju deforestasi tahun lalu mencapai titik terendah selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2019, KLHK telah merehabilitasi sekitar 400 ribu hektar hutan dan saat terjadi pandemi KLHK berencana menambah jumlah bibit yang akan ditanam pada tahun 2021. 

Menyambut upaya Pemerintah, Trenchard menambahkan, “Kemajuan tersebut benar-benar kabar baik bagi kita semua. Restorasi dan pengelolaan hutan yang lestari akan membantu mengatasi perubahan iklim dan krisis keanekaragaman hayati secara bersamaan serta menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan untuk pembangunan berkelanjutan. ” 

Hutan menyediakan lebih dari 86 jutasumber mata pencaharian di seluruh dunia dan mendukung penghidupan lebih banyak orang. State of Indonesia Forest (SOIFO) 2020, yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melaporkan bahwa lebih dari 400 ribu orang dipekerjakan secara langsung dalam produksi hutan kayu dan non-kayu setiap tahun di Indonesia.  

Kayu dari hutan yang dikelola dengan baik mendukung beragam industri, mulai dari pembuatan kertas hingga pembangunan gedung-gedung tinggi. Investasi dalam bentuk restorasi hutan akan membantu pemulihan ekonomi dari pandemi dengan menciptakan lebih banyak lapangan kerja. 

Caption: Organic Farming area is bordered by forest in Kembayan Village, West Kalimantan
Photo: © Djuwahir , Harriansyah FAO Indonesia

Setiap pohon berarti 

Proyek penanaman dan restorasi skala kecil dapat berdampak besar. Dan tidak hanya di daerah pedesaan. Penghijauan kota menciptakan udara yang lebih bersih dan ruang yang lebih indah serta memberikan manfaat besar bagi kesehatan mental dan fisik penduduk perkotaan. 

Berinvestasi dalam restorasi hutan dan lahan akan membantu memulihkan kesehatan manusia, komunitas, dan lingkungan. Restorasi menawarkan prospek untuk mengembalikan pohon dan hutan ke lanskap hutan yang kritis dan terdegradasi dalam skala besar, sehingga meningkatkan ketahanan ekologi dan produktivitas. 

“Kita dapat pulih dari krisis kesehatan, lingkungan, dan ekonomi planet kita. Hutan dapat membantu kita mengatasi kemiskinan dan kelaparan serta mengurangi ketimpangan. Mari pulihkan hutan! Kita bangun semua dengan lebih baik dan raih masa depan yang kita semua inginkan. "tambah Trenchard. 

Hari Hutan Internasional 2021: Restorasi hutan pulihkan kesehatan, ekonomi dan kesejahteraan manusia

GenericAS

Andri Suryo

Communications Officer
Richard Trenchard

Richard Trenchard

Representative a.i
Dick Trenchard has more than 25 years development, humanitarian and crisis experience. A land tenure and property specialist by background, he has worked for the United Nations at FAO, IFAD and WFP (on secondment).
Before this dual appointment as FAO Representative ad interim for Indonesia and Timor-Leste in November 2020, he was head of Regional Policy and Senior Adviser for the Near East and North Africa, based in FAO’s regional office in Cairo, focusing on transforming food systems for healthy diets, rural growth and sustainable environmental management. Previously, he has been FAO’s first “Whole of Syria Coordinator” and FAO Representative in Somalia, playing a key leadership role in an unprecedented – and successful – international and national effort to prevent famine warming becoming the spectre of famine. He also has experience from a range of sudden-onset and complex emergency settings, including South Sudan, Sudan (Darfur), Liberia, Pakistan, Somalia, Syria and Rwanda and has supported development programmes and operations in more than thirty other countries.
Previously, he has played advisory roles in FAO’s Senior Management team and been part of technical teams providing longer-term development support to countries around the world, mainly on land tenure and livelihood-related work.
He has a PhD from Cambridge University (UK).

UN entities involved in this initiative

FAO
Food and Agriculture Organization of the United Nations

Goals we are supporting through this initiative