Bapak Ary Sudijanto, Deputi Tata Kelola Perubahan Iklim dan Penetapan Harga Karbon, Kementerian Lingkungan Hidup
Ibu Tina Meilina, Direktur Utama – BRI Investment Management
Perwakilan dari Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, OJK, BPDLH, BEI dan sektor swasta
Rekan-rekan PBB saya yang terhormat
Merupakan suatu kehormatan untuk menyampaikan pidato ini saat kita berkumpul untuk memanfaatkan kekuatan pembiayaan inovatif guna mendukung Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 Indonesia, Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC), dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Lingkungan Hidup atas kepemimpinannya dalam agenda penting ini.
Komitmen Anda terhadap mitigasi iklim dan percepatan solusi berbasis alam tercermin dalam penyelenggaraan dialog penting ini bersama UN-REDD untuk membangun ekosistem pembiayaan iklim yang kuat dan sesuai tujuan.
Indonesia menunjukkan kepemimpinan yang patut dicontoh dalam isu iklim dengan menyeimbangkan pertumbuhan berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab.
Namun ambisi saja tidak cukup. Ambisi harus dipadukan dengan inovasi keuangan yang berani, pendekatan seluruh pemerintahan, dan mekanisme yang inklusif untuk mewujudkan visi bersama kita atas pembangunan rendah karbon yang tangguh.
Rencana FOLU Net Sink 2030 Indonesia membutuhkan pembiayaan sebesar USD 13,3 miliar, namun hingga saat ini kurang dari 10 persen telah diperoleh untuk mendukung aksi-aksi penting seperti reforestasi dan pengelolaan hutan berkelanjutan.
Di sinilah pembiayaan inovatif memiliki peran penting.
Pembiayaan inovatif dapat menghubungkan prioritas iklim publik dengan potensi sektor swasta serta mendorong investasi melalui alat seperti DINFRA Climate Resilience Fund, obligasi hijau, sukuk hijau, mekanisme de-risking, pasar karbon, dan instrumen penjaminan.
DINFRA Climate Resilience Fund bertujuan untuk memobilisasi pembiayaan publik dan swasta guna mendukung upaya seperti reforestasi berbasis masyarakat, restorasi lahan gambut, dan usaha hutan berkelanjutan yang tidak hanya menyimpan karbon tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan memperkuat pembangunan ekonomi lokal.
Mekanisme pembiayaan inovatif juga berperan dalam memberdayakan komunitas lokal termasuk perempuan, pemuda, dan UMKM untuk mengamankan mata pencaharian mereka yang berbasis pada perluasan solusi berbasis alam.
Dengan menyalurkan sumber daya ke tingkat lokal, DINFRA memiliki potensi untuk memberi manfaat bagi lebih dari 3.000 anggota komunitas yang tinggal di kawasan hutan, membuka mata pencaharian berkelanjutan dan memperkuat ketangguhan masyarakat yang bergantung pada hutan sambil menjaga modal alam Indonesia.
Tim PBB di Indonesia tetap berkomitmen untuk memajukan tujuan iklim dan pembangunan negara ini saat kami bermitra dengan pemerintah, lembaga keuangan, investor, dan mitra pembangunan untuk membangun ekosistem pembiayaan yang berkelanjutan, inklusif dan adil.
Untuk itu, UNEP, UNDP, dan FAO mengumpulkan aktor strategis, termasuk UNCDF dan BRI-MI, untuk mendorong kemajuan dalam pembiayaan inovatif.
Dengan bertindak secara tegas dan berinovasi secara bertanggung jawab, kita akan berinvestasi demi masa depan yang lebih baik bagi semua, sehingga alam dan manusia dapat tumbuh bersama.
Terima kasih.