Cerita
08 September 2026
Bagaimana Kota Tomohon Memberi Kehidupan Kedua bagi Sisa Makanan
Setiap hari, Kota Tomohon menghasilkan 51,6 ton sampah. Selama bertahun-tahun, sebagian besar sampah tersebut berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) yang sejak awal tidak dirancang untuk menampung beban sebesar itu. Namun, di Tomohon Barat, seorang warga perlahan mengubah cerita tersebut. Sore itu cerah di Tomohon Barat ketika Jemmy Makasala berjalan menyusuri lingkungan tempat tinggal warga, berhenti dari waktu ke waktu untuk menyapa dan memeriksa keadaan warga di sepanjang rute yang sudah sangat dikenalnya. Sebagai fasilitator masyarakat setempat, Jemmy telah bertahun-tahun bekerja bersama warga di wilayah ini. Pada sore itu, seseorang memanggilnya dari kebun dan memintanya melihat tanaman yang mereka rawat.Jemmy memenuhi permintaan itu, seperti yang biasa ia lakukan, dengan memberikan saran praktis tentang cara merawat kebun di tanah vulkanik Tomohon yang terkenal subur. Namun, perhatiannya juga tertuju pada sesuatu yang terletak di samping pintu depan rumah: sebuah kantong kompos.Jemmy percaya bahwa tidak ada sesuatu pun yang seharusnya benar-benar terbuang. Ia mengolah sisa makanan menjadi pupuk dan eco-enzyme, sekaligus mendorong masyarakat di berbagai wilayah Tomohon untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang.“Di wilayah ini, kami memiliki sekitar 60 kantong kompos,” jelas Jemmy. “Jarak antar-kantong sekitar 100 meter. Dengan begitu, setiap warga dapat dengan mudah mengakses kantong untuk membuang sampah organik mereka.”Jumlah ini memang masih terbatas. Namun, mengingat hampir 70 persen sampah harian Tomohon merupakan sampah organik, solusi sederhana berbasis masyarakat seperti ini berpotensi memberikan dampak yang berarti. Kota yang hidup berdampingan dengan sampahnya sendiri Tomohon merupakan rumah bagi 205.448 penduduk di Sulawesi Utara. Seperti banyak kota yang terus berkembang, pertumbuhan Tomohon membawa peluang sekaligus persoalan sampah. Selama bertahun-tahun, volume sampah meningkat lebih cepat daripada kapasitas sistem pengelolaan sampah yang tersedia.Bagi keluarga yang tinggal di sekitar Tara-Tara, TPA utama Tomohon, persoalan ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bau yang masuk melalui jendela rumah, kekhawatiran tentang rembesan yang dapat mencemari sumber air yang digunakan anak-anak mereka, serta perasaan pasrah terhadap sistem yang sejak awal tidak dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan mereka.TPA tersebut kesulitan mengimbangi volume sampah yang masuk. Air lindi merembes ke sumber-sumber air di sekitarnya. Pembusukan yang tidak terkendali menghasilkan metana yang dilepaskan ke atmosfer. “Kota Tomohon menghadapi lima tantangan utama dalam pengelolaan sampah,” ujar Wali kota Caroll Senduk. Tantangan tersebut meliputi terbatasnya koordinasi lintas sektor, para pemangku kepentingan yang masih berjalan sendiri-sendiri, belum adanya kerangka pengelolaan sampah terpadu, data yang belum dapat diandalkan, serta kesenjangan antara praktik terbaik dan sistem formal yang ada. Menyatukan Kota untuk Berdialog dan Mencari SolusiTantangan-tantangan inilah yang ingin dijawab oleh ASEAN dan UN-Habitat. Melalui ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy (ASUS) Project – Phase II, UN-Habitat bekerja sama dengan berbagai kota di kawasan untuk mengembangkan pendekatan terpadu dan berpusat pada masyarakat dalam menangani persoalan perkotaan, termasuk pengelolaan sampah.ASEAN dan UN-Habitat mempertemukan 70 pejabat pemerintah kota, warga, dan para ahli teknis di Tomohon. Tujuannya bukan sekadar membahas persoalan, tetapi menghadapinya secara terbuka dan bersama-sama. Dari proses tersebut, lahirlah sebuah peta jalan yang kemudian mengarah pada penyusunan proposal teknis bersama untuk memperluas apa yang sudah berjalan di lapangan: Pusat Pengolahan Sampah Organik Terpadu Tomohon (PPSOT).Di fasilitas PPSOT yang saat ini diawasi Jemmy, sampah organik diolah menjadi eco-enzyme dan pupuk cair. Menurut Jemmy, eco-enzyme memiliki beragam kegunaan. Bahan ini dapat digunakan sebagai pupuk alami untuk membantu sayuran tumbuh lebih besar. Eco-enzyme juga dapat diolah menjadi disinfektan, bahkan digunakan sebagai bahan dalam pembuatan sabun. Di sebelah fasilitas tersebut terdapat kebun percontohan yang menunjukkan bagaimana sisa makanan dapat diubah menjadi kompos, menyuburkan tanah, dan kemudian membantu menumbuhkan kembali bahan pangan.“Saya masih terus bereksperimen dengan eco-enzyme. Kami memberikannya secara gratis kepada siapa saja yang ingin menggunakannya. Kami bahkan menyemprotkannya di TPA untuk membantu mengurangi bau, sebagai langkah sementara untuk mengurangi polusi udara,” ujar Jemmy.Yang tak kalah penting, Jemmy memfasilitasi kelompok-kelompok perempuan di masyarakat untuk terlibat aktif dalam pemilahan dan pengomposan sampah, sekaligus memperoleh pendapatan dengan menjual kembali produk yang dapat didaur ulang. Pendapatan tersebut kemudian digunakan untuk kegiatan pertanian masyarakat, pelibatan anak muda, dan proyek pendidikan. Ini merupakan salah satu bentuk dukungan ASUS terhadap berbagai inisiatif perkotaan yang berfokus pada masyarakat dan digerakkan dari tingkat akar rumput.Bagi Jemmy, inisiatif ini memiliki potensi besar, tetapi ia juga terbuka mengenai keterbatasannya. Saat ini, fasilitas tersebut baru mampu mengolah sebagian kecil sampah organik di wilayah tersebut, sementara sampah dari pasar belum terintegrasi. Keterbatasan kapasitas kontainer membuat PPSOT hanya dapat beroperasi setiap tiga hari sekali. Mendorong partisipasi masyarakat yang lebih luas juga masih menjadi tantangan.“Saya menolak menggunakan kata ‘sampah’,” tambah Jemmy, “karena seharusnya tidak ada yang terbuang; semuanya dapat dimanfaatkan kembali.” Jemmy membayangkan masa depan dengan lebih banyak kontainer, lebih banyak titik pengomposan, dan keterlibatan masyarakat yang lebih luas, sehingga semakin sedikit sampah yang berakhir di TPA. Membayangkan kembali masa depan sebuah kotaAmbisinya bukan sekadar menciptakan Tomohon yang lebih bersih. Yang ingin dibangun adalah kota yang lebih terhubung, di mana masyarakat tidak hanya menjadi penonton perubahan.Kota di mana warga yang memanggil Jemmy untuk bertanya tentang tanaman di kebun mereka juga menjadi warga yang berpikir dua kali sebelum membuang sisa sayuran di pinggir jalan.Kota di mana bau dari TPA menjadi bagian dari masa lalu, bukan lagi kenyataan yang harus dihadapi setiap hari.“Jika setiap orang di komunitas ini dapat mengelola sampahnya sendiri, kita akan secara signifikan mengurangi beban TPA, dan mungkin bahkan dapat mewujudkan komunitas yang benar-benar bebas sampah,” ujar seorang warga Kecamatan Tomohon Barat. -----------------------------ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy (ASUS) Project – Phase II Proyek ASEAN “Accelerating the Implementation of the ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy Phase II” atau “ASUS Project Phase II”, yang dilaksanakan oleh UN-Habitat dengan dukungan Pemerintah Australia melalui Australia for ASEAN Futures Initiative (AUS4ASEAN), bertujuan mempercepat penerapan praktik urbanisasi berkelanjutan dengan mengimplementasikan ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy (ASUS) di kota-kota sekunder dan menengah.Phase II tetap menempatkan ASUS sebagai pusat upaya urbanisasi berkelanjutan di ASEAN, sekaligus memperkuat konektivitas dan kegiatan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan New Urban Agenda (NUA) di seluruh kawasan.-----------------------------Artikel ini pertama kali diterbitkan di situs UN-Habitat dengan judul, 'A city rethinking waste: lessons from Tomohon' , pada16 April 2026.