Latest
Pidato
05 November 2026
Hari Kesadaran Tsunami Sedunia 2026 - Pesan Sekretaris Jenderal, António Guterres
Pelajari Lebih Lanjut
Cerita
04 November 2026
Aksi Bersama PBB di Indonesia: Mengubah Investasi Katalitik Menjadi Perubahan Sistemik
Pelajari Lebih Lanjut
Pidato
02 November 2026
Hari Internasional untuk Mengakhiri Impunitas Atas Kejahatan Terhadap Jurnalis 2026 - Pesan Sekretaris Jenderal, António Guterres
Pelajari Lebih Lanjut
Latest
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia
Indonesia kian tumbuh dengan kecepatan yang lebih cepat dari waktu mana pun dalam sejarahnya. Dengan mengingat Agenda 2030, negara ini bergerak menuju ekonomi rendah karbon yang bernilai lebih tinggi, terintegrasi secara global. PBB bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia, organisasi masyarakat sipil, lembaga akademis, dan entitas sektor swasta untuk mencapai TPB secara efektif melalui pendekatan terpadu.
PBB juga akan memperkuat kemitraannya dengan otoritas dan masyarakat regional dan kabupaten untuk memberikan hasil pembangunan yang berkelanjutan. Selain itu, PBB akan memperluas kerjasamanya dengan memasukkan asosiasi industri, think tank, pengelola data dan lembaga berbasis sains dan teknologi yang menawarkan prospek inovasi untuk solusi pembangunan terintegrasi, yang sangat penting untuk pencapaian TPB.
PBB berkomitmen untuk bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dalam membangun bangsa yang sejahtera, demokratis, dan adil, di mana pembangunan bisa bermanfaat bagi semua orang, dan di mana hak-hak generasi mendatang dilindungi. Sesuai dengan janji TPB untuk “tidak meninggalkan siapa pun”, pendekatan PBB menggabungkan fokus yang kuat pada yang termiskin dari yang miskin, memerangi diskriminasi dan meningkatnya ketidaksetaraan dan mengatasi akar penyebabnya. “Tidak meninggalkan siapa pun” berarti memprioritaskan martabat orang dan menempatkan kemajuan komunitas yang paling terpinggirkan dan rentan terlebih dahulu.
Janji sentral dan transformatif ini menjadi lebih penting dari sebelumnya untuk mengatasi dampak pandemi COVID-19 dan bekerja menuju pemulihan yang berkelanjutan, tangguh, dan inklusif.
Publikasi
24 Februari 2026
Laporan Tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa Indonesia 2025
Kemitraan antara Pemerintah Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa terus mendorong pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di seluruh negeri. Seiring dimulainya implementasi Kerangka Kerja Sama Indonesia–PBB 2026–2030, capaian tahun 2025 menunjukkan skala dan dampak dari aksi kolektif kita.Sepanjang tahun, 53,9 juta orang mengakses layanan kesehatan yang didukung PBB, sementara lebih dari 2 juta orang menerima makanan bergizi melalui 1.000 dapur komunitas yang beroperasi di seluruh Indonesia. Kolaborasi kita juga memungkinkan 1 juta petani dan nelayan menerapkan praktik cerdas iklim, berkontribusi pada pengurangan 3,95 juta ton emisi gas rumah kaca, serta memperkuat 27.561 UMKM untuk mendorong perekonomian lokal dan mata pencaharian masyarakat.Melalui mekanisme pembiayaan inovatif, kami memobilisasi dana sebesar 1.5 miliar dolar AS untuk pembangunan berkelanjutan. Kemitraan dengan perbankan dan sektor swasta juga mendorong pembiayaan yang bertanggung jawab dan lingkungan kerja yang inklusif.Desain laporan ini terinspirasi dari motif Gurda (Garuda) yang melambangkan kewaspadaan, perlindungan, dan tanggung jawab kolektif. Motif ini mencerminkan nilai-nilai bersama yang mendasari kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa—keberlanjutan, ketangguhan, dan pengabdian kepada masyarakat—yang membimbing komitmen bersama kita untuk menjaga kemajuan.Untuk gambaran lengkap mengenai kemajuan Indonesia dalam mencapai SDGs, silakan unduh laporan di bawah ini.
1 of 5
Publikasi
13 Agustus 2025
Kerangka Kerja Sama Pembangunan Berkelanjutan Indonesia–Perserikatan Bangsa-Bangsa 2026–2030
Kerangka Kerja Sama Pembangunan Berkelanjutan Indonesia–Perserikatan Bangsa-Bangsa (Kerangka Kerja Sama, 2026–2030) mencerminkan komitmen kolektif sistem PBB untuk sepenuhnya menyelaraskan keahlian, sumber daya, dan kemitraannya guna mendukung visi pembangunan nasional Indonesia. Berlandaskan komitmen bersama terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), kerangka ini menjadi instrumen utama yang memandu kolaborasi strategis antara Pemerintah Indonesia dan Tim PBB di Indonesia hingga tahun 2030.Kerangka Kerja Sama ini merupakan hasil dari konsultasi yang luas dan inklusif dengan lembaga pemerintah, masyarakat sipil, pemuda, pelaku sektor swasta, dan mitra pembangunan. Kerangka ini dirancang untuk mendukung percepatan kemajuan menuju aspirasi jangka panjang Indonesia menjadi negara maju, berkelanjutan, dan berpendapatan tinggi, sebagaimana diartikulasikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2025–2029), khususnya “Trisula Pembangunan” yang menekankan pada pengurangan kemiskinan, pengembangan sumber daya manusia, dan pertumbuhan ekonomi. Kerangka ini menunjukkan keselarasan yang kuat dengan prioritas nasional, sekaligus memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.Kerangka Kerja Sama ini menetapkan bagaimana PBB akan menyesuaikan cara kerjanya dalam merespons dinamika konteks pembangunan Indonesia, melalui peningkatan fokus pada pembukaan akses pembiayaan inovatif untuk memperluas dampak SDGs, memanfaatkan kapasitas berbagai entitas melalui penawaran terintegrasi, memusatkan perhatian pada tema dan wilayah dengan kebutuhan terbesar, serta memfasilitasi Kerja Sama Selatan–Selatan dan Triangular.Unduh Ringkasan Eksekutif (tombol pertama) atau Versi Lengkap (tombol kedua)
1 of 5
Publikasi
19 Februari 2026
Lembar Fakta Akselerator Global untuk Lapangan Kerja dan Perlindungan Sosial untuk Transisi yang Adil
Akselerator Global untuk Lapangan Kerja dan Perlindungan Sosial untuk Transisi yang Adil diluncurkan oleh Sekretaris Jenderal PBB dengan tujuan melibatkan negara-negara dalam mendorong pemulihan pascapandemi COVID-19 yang kaya lapangan kerja. Inisiatif ini menggabungkan dan mempercepat perhatian pada penciptaan lapangan kerja dan perumusan kebijakan perlindungan sosial, sekaligus mendukung transisi ekologis, teknologi, dan sosial menuju ekonomi dan masyarakat yang lebih berkelanjutan serta inklusif. Indonesia menjadi negara perintis Akselerator Global pada 2023. Untuk menyediakan kerangka payung bagi upaya ini, Pemerintah Indonesia menyusun Roadmap Akselerator Global dengan dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa serta melalui konsultasi dengan pekerja, pengusaha, dan organisasi masyarakat sipil.Untuk melaksanakan roadmap tersebut, Program Gabungan PBB Akselerator Global untuk Lapangan Kerja dan Perlindungan Sosial untuk Transisi yang Adil (GA) dibentuk pada 2025, yang mempertemukan UNDP, UNICEF, dan ILO sebagai lembaga teknis utama guna mendukung transformasi sosial dan ekonomi nasional. Selain itu, Program Gabungan PBB Multi-Stakeholder Engagement to Implement the UN Global Accelerator and the World Bank Compass (M-GA) juga mempertemukan UNICEF, ILO, dan Bank Dunia di bawah payung Roadmap GA.Lembar fakta ini merupakan ringkasan singkat dua halaman yang memberikan gambaran umum tentang Program Gabungan Akselerator Global, termasuk hasil yang dicapai dan area dampak utamanya.
1 of 5
Publikasi
19 Januari 2026
Tentang Perjanjian BBNJ - Perjanjian Keanekaragaman Hayati Laut di Wilayah di Luar Yurisdiksi Nasional
Perjanjian di bawah Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut tentang Konservasi dan Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati Laut secara Berkelanjutan di Wilayah di Luar Yurisdiksi Nasional, atau yang lebih dikenal sebagai "Perjanjian BBNJ", merupakan perjanjian kelautan lintas sektoral komprehensif pertama dalam beberapa dekade terakhir. Perjanjian ini diadopsi pada tanggal 19 Juni 2023, setelah melalui proses negosiasi selama hampir dua puluh tahun. Adopsi ini menandai pencapaian bersejarah dalam upaya memastikan kesehatan dan ketahanan ekosistem laut, serta untuk menciptakan kesetaraan dalam kemampuan untuk berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari kegiatan di wilayah di luar yurisdiksi nasional.Perjanjian ini menangani serangkaian isu dengan tujuan utama untuk memastikan pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati laut di wilayah di luar yurisdiksi nasional untuk masa kini dan jangka panjang, melalui penerapan efektif berbagai ketentuan terkait dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut serta penguatan kerja sama dan koordinasi internasional. Perjanjian ini menetapkan langkah-langkah spesifik terkait isu-isu tersebut, tata cara pelaksanaan dan pemantauannya, serta pengaturan institusional untuk mendukung implementasinya (Lembar fakta 1: Sekilas Mengenai Perjanjian BBNJ).Perjanjian ini mencakup empat isu utama:Sumber daya genetik laut, termasuk pembagian keuntungan yang adil dan merata (Lembar fakta 2);Langkah-langkah seperti alat manajemen berbasis wilayah, termasuk kawasan lindung laut (Lembar fakta 3);Penilaian dampak lingkungan (Lembar fakta 4); danPeningkatan kapasitas dan transfer teknologi kelautan (Lembar fakta 5).Selain itu, Perjanjian ini juga membahas apa yang disebut sebagai "isu-isu lintas sektoral (Lembar Fakta 6)", yakni topik-topik yang bersifat lintas bidang dalam implementasi Perjanjian serta relevan dengan keempat isu utama tersebut.Perjanjian BBNJ dan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum LautKonvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS, atau Konvensi) menetapkan kerangka hukum bagi pelaksanaan seluruh kegiatan di samudra dan lautan. Konvensi ini mengakui bahwa seluruh permasalahan di laut saling berkaitan erat dan perlu ditangani secara menyeluruh sebagai satu kesatuan. Konvensi ini mulai berlaku pada 16 November 1994 dan saat ini memiliki 170 pihak, yang terdiri dari 169 Negara dan Uni Eropa. Konvensi ini mencakup 320 pasal dan sembilan lampiran yang menetapkan batas-batas berbagai zona maritim serta hak dan kewajiban para pihak di zona-zona tersebut. Konvensi ini juga menyediakan kerangka kerja untuk pengembangan lebih lanjut bidang-bidang spesifik hukum laut, termasuk melalui perjanjian pelaksanaannya.Perjanjian BBNJ merupakan perjanjian implementasi ketiga dari Konvensi, selain Perjanjian yang berkaitan dengan Implementasi Bagian XI Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut tanggal 10 Desember 1982 (Perjanjian Bagian XI), yang mengatur eksploitasi dan eksplorasi sumber daya mineral di kawasan dasar laut internasional (“Kawasan” sebagaimana didefinisikan dalam Konvensi), serta Perjanjian untuk implementasi ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut tanggal 10 Desember 1982 yang berkaitan dengan konservasi dan pengelolaan stok ikan lintas batas dan stok ikan migrasi tinggi (Perjanjian Stok Ikan Perserikatan Bangsa-Bangsa), yang membahas konservasi dan pengelolaan stok ikan lintas batas dan stok ikan migrasi tinggi.Perjanjian BBNJ menetapkan bahwa penafsiran dan penerapannya harus selaras dan konsisten dengan Konvensi. Perjanjian ini juga menjamin bahwa ketentuan di dalamnya tidak akan mengurangi hak, yurisdiksi, maupun kewajiban Negara-negara di bawah Konvensi, termasuk yang berkaitan dengan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan landas kontinen, baik di dalam maupun di luar batas 200 mil laut.Seluruh negara dan organisasi integrasi ekonomi regional dapat menjadi pihak dalam Perjanjian BBNJ, terlepas dari apakah mereka sudah bergabung dalam Konvensi atau belum. Perjanjian ini juga menegaskan bahwa status hukum negara-negara yang bukan merupakan pihak dalam Konvensi tidak akan terpengaruh oleh adanya Perjanjian ini.Mengapa Perjanjian BBNJ penting?Perjanjian BBNJ menandai langkah krusial untuk menanggulangi tren kerusakan laut dan memulihkan kesehatan samudra. Hal ini sangat penting untuk mengatasi tiga krisis planet (triple planetary crisis) yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi, serta untuk mencapai berbagai target global terkait laut, termasuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 14.Sebagai perjanjian kelautan lintas sektoral komprehensif pertama dalam beberapa dekade terakhir, fokusnya pada penguatan kerja sama internasional berpotensi mendorong pendekatan yang lebih terpadu dan utuh dalam pengelolaan berbagai aktivitas di laut.Beberapa ketentuannya akan mendukung pengelolaan laut yang lebih inklusif, termasuk aturan terkait pengetahuan tradisional serta keterlibatan Masyarakat Adat dan komunitas lokal, aspek yang memperhatikan kebutuhan gender dalam pengembangan kapasitas, serta keseimbangan gender dan keterwakilan wilayah yang adil dalam susunan badan-badan yang dibentuk di bawah Perjanjian ini.Perjanjian ini akan mendorong penelitian ilmiah tentang kelautan serta memfasilitasi pengumpulan dan penyebaran data dan informasi untuk meningkatkan pengetahuan kita mengenai keanekaragaman hayati laut di wilayah-wilayah yang selama ini belum banyak dijelajahi, sekaligus mendukung langkah-langkah pelestarian dan pengelolaan yang berbasis data ilmiah.Perjanjian ini akan berkontribusi dalam mengatasi ketimpangan kemampuan untuk melaksanakan dan mengambil manfaat dari kegiatan terkait sumber daya genetik laut di wilayah di luar yurisdiksi nasional serta informasi urutan digital dari sumber daya tersebut, untuk memastikan bahwa kegiatan-kegiatan ini dilakukan demi kepentingan semua negara dan untuk manfaat seluruh umat manusia.Perjanjian ini akan memungkinkan penerapan berbagai instrumen pengelolaan berbasis wilayah, termasuk kawasan lindung laut, di wilayah di luar yurisdiksi nasional, yang akan berkontribusi dalam melindungi dan memulihkan ekosistem serta memperkuat daya tahan terhadap berbagai tekanan, termasuk perubahan iklim, pengasaman laut, dan polusi laut.Perjanjian ini akan membantu mencegah dan meminimalkan dampak buruk terhadap lingkungan laut, termasuk melalui ketentuan-ketentuannya mengenai penilaian dampak lingkungan serta instrumen pengelolaan berbasis wilayah, termasuk kawasan lindung laut.Perjanjian ini akan mengatasi kesenjangan kapasitas dan membantu negara-negara dalam memperkuat kerja sama serta koordinasi untuk melaksanakan berbagai kegiatan di wilayah di luar yurisdiksi nasional melalui pembangunan kapasitas dan transfer teknologi kelautan.Kapan Perjanjian ini mulai berlaku?Perjanjian ini dibuka untuk penandatanganan selama dua tahun, mulai dari 20 September 2023 hingga 20 September 2025. Selama periode tersebut, penandatanganan dapat dilakukan dengan membuat janji temu dengan Bagian Perjanjian pada Kantor Urusan Hukum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Untuk menjadi pihak dalam perjanjian ini, negara-negara yang telah menandatangani selanjutnya harus meratifikasi, menerima, atau menyetujui Perjanjian ini sesuai dengan prosedur hukum nasional mereka masing-masing.Setelah periode penandatanganan ditutup, suatu negara atau organisasi integrasi ekonomi regional dapat menjadi pihak dalam Perjanjian melalui aksesi sesuai dengan prosedur internal mereka masing-masing. Perjanjian ini akan mulai berlaku 120 hari setelah tanggal penyerahan instrumen ratifikasi, penerimaan, persetujuan, atau aksesi ke-60.Artikel ini awalnya diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada halaman berjudul "Tentang Perjanjian Keanekaragaman Hayati Laut di Wilayah di Luar Yurisdiksi Nasional" yang dapat diakses melalui tautan ini: https://www.un.org/bbnjagreement/en/bbnj-agreement/about-agreement
1 of 5
Publikasi
23 Desember 2025
Buletin ASSIST JP - Edisi Final 2025
Sejak 2021, Program Bersama PBB “Accelerating Sustainable Development Goals Investments in Indonesia (ASSIST)” telah mempertemukan empat badan PBB—UNEP, UNICEF, UNIDO, dan UNDP sebagai lembaga teknis utama—untuk bermitra dengan Pemerintah Indonesia dalam mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui pemanfaatan pembiayaan inovatif yang selaras dengan SDGs. Pembiayaan yang dimobilisasi dengan dukungan ASSIST telah menjangkau lebih dari 56 juta orang di Indonesia.Seiring berakhirnya program ini, Edisi Final Buletin Program Bersama ASSIST menyoroti berbagai capaian utama, tonggak penting, serta kisah-kisah dari periode 2021–2025. Mulai dari dukungan terhadap penerbitan obligasi tematik Indonesia, penguatan pengelolaan keuangan publik dan pembiayaan berbasis keagamaan, pengembangan kerangka pembiayaan berkelanjutan bagi perbankan, hingga penguatan ekosistem investasi berdampak dan mekanisme penurunan risiko—Program Bersama ASSIST telah memainkan peran penting dalam membentuk lanskap pembiayaan berkelanjutan di Indonesia.
1 of 5
Cerita
04 November 2026
Aksi Bersama PBB di Indonesia: Mengubah Investasi Katalitik Menjadi Perubahan Sistemik
Salah satu hal paling bermakna selama menjalankan tugas sebagai Kepala Perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia adalah menyaksikan berbagai bagian dari sistem PBB bersatu untuk mencapai tujuan bersama dan menghasilkan dampak yang tidak mungkin dicapai oleh satu badan PBB saja.Indonesia adalah negara dengan peluang dan ambisi yang sangat besar. Dalam upayanya mewujudkan visi jangka panjang untuk menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045, hampir 63 persen indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Indonesia berada pada jalur yang tepat. Namun, untuk menutup kesenjangan pembiayaan SDGs nasional sebesar US$1,7 triliun, diperlukan arsitektur keuangan yang transformatif dan digerakkan oleh pasar. Di seluruh penjuru nusantara, 21 badan, dana, dan program PBB yang aktif di Indonesia bekerja sama erat dengan kementerian-kementerian terkait untuk menghadirkan solusi terpadu dan katalitik yang selaras langsung dengan prioritas pembangunan nasional.Joint SDG Fund telah menyediakan wadah yang luar biasa untuk mewujudkan kolaborasi tersebut. Mengurangi Risiko di Pasar ModalSalah satu contohnya adalah Program Bersama Accelerating SDG Investments in Indonesia (ASSIST). Di atas kertas, program ini merupakan program pembiayaan. Namun, dalam pelaksanaannya, program ini berkembang menjadi wadah kemitraan yang mempertemukan Kementerian Keuangan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), UNDP, UNICEF, UNEP, dan UNIDO dalam satu visi bersama: mengubah cara pembangunan berkelanjutan dibiayai di Indonesia.Program bersama ini berhasil memobilisasi pembiayaan lebih dari US$6 miliar. Pencapaian ini dimungkinkan karena program tersebut berfokus pada pembangunan kepercayaan, transparansi, dan penguatan kapasitas kelembagaan.Melalui kemitraan dengan pemerintah, PBB mendukung pengembangan SDGs Government Securities Framework (Kerangka Surat Berharga Pemerintah untuk SDGs), memperkuat mekanisme verifikasi independen, serta membangun sistem pelaporan dampak untuk memastikan para investor memperoleh jaminan atas manfaat sosial dan lingkungan yang terukur. Fondasi ini turut memungkinkan penerbitan Green Sukuk pemerintah, Obligasi SDGs (SDG Bonds), serta Blue Bond pemerintah pertama di dunia yang diterbitkan di pasar Jepang.Namun, nilai sesungguhnya dari pembiayaan tidak hanya terletak pada jumlah dana yang berhasil dimobilisasi, tetapi juga pada manfaat yang dapat diwujudkannya. Dana tersebut telah mendukung sekitar 3 juta keluarga prasejahtera dan 20 juta pelajar, sekaligus turut membiayai lebih dari 30 juta dosis vaksin untuk anak-anak. Bagi saya, pelajaran terpentingnya adalah bahwa pembiayaan bukanlah tujuan akhir. Nilainya terletak pada seberapa efektif pembiayaan tersebut mendukung prioritas nasional dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menerjemahkan Modal Menjadi Dampak NyataPembiayaan inovatif memiliki makna paling besar ketika mampu membawa perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam bidang perlindungan sosial.Salah satu pelajaran terpenting dari pekerjaan kami di Indonesia adalah bahwa perlindungan sosial akan lebih efektif jika terhubung dengan kesempatan kerja, pengembangan keterampilan, dan inklusi. ILO, UNICEF, UNDP, dan Bank Dunia bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintah untuk memperkuat dan meningkatkan sistem perlindungan sosial adaptif, layanan yang inklusif bagi penyandang disabilitas, serta sistem data perlindungan sosial. Upaya ini turut mendukung penyusunan Rencana Aksi Nasional Penyandang Disabilitas, reformasi sistem penargetan bantuan yang lebih responsif terhadap kebutuhan penyandang disabilitas, serta integrasi data perlindungan sosial dengan data kerentanan iklim.Hasilnya sudah terlihat nyata. Pemerintah berencana memperluas bantuan sosial bagi penyandang disabilitas hingga menjangkau 6,5 juta orang pada tahun ini. Pada saat yang sama, layanan ketenagakerjaan yang inklusif bagi penyandang disabilitas semakin terintegrasi ke dalam sistem nasional. Hal ini didukung oleh lebih dari 1.800 petugas layanan ketenagakerjaan publik di seluruh Indonesia yang telah memperoleh sertifikasi sebagai Disability Management Professionals (Profesional Manajemen Disabilitas).Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus merespons perubahan iklim, Indonesia perlu memastikan petani kecil memiliki akses terhadap teknologi, asuransi, dan pembiayaan untuk membangun ketangguhan. Melalui inisiatif yang didukung Joint SDG Fund dan dipimpin oleh FAO, IFAD, serta UNDP, Pemerintah dan PBB menggabungkan pertanian cerdas iklim, asuransi yang terjangkau, dan mekanisme pembiayaan inovatif. Program ini menargetkan setengah juta petani di Jawa Timur dan Lampung, sekaligus memperluas akses terhadap praktik pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim dan sumber pembiayaan berkelanjutan. Melalui Arab Gulf Programme for Development, kami juga menggandakan jangkauan dukungan kepada petani kecil dan petani berlahan terbatas di sejumlah provinsi sentra produksi pangan.Kemitraan kami dengan Indonesia yang terus berkembang juga tercermin dari meningkatnya serta berubahnya jenis permintaan yang disampaikan lembaga-lembaga pemerintah kepada PBB. Semakin banyak permintaan yang diajukan bukan lagi untuk proyek-proyek yang berdiri sendiri, melainkan untuk keahlian teknis yang sangat spesifik guna mengatasi tantangan kompleks di bidang kebijakan, pembiayaan, dan pasar.Melalui mekanisme Expertise on Demand dari Joint SDG Fund, kami dapat mengakses keahlian dari seluruh sistem PBB, termasuk badan-badan PBB yang tidak berkedudukan di Indonesia. Bersama UNEP, kami memperkuat kerangka regulasi, transparansi, dan sistem verifikasi untuk membangun kepercayaan investor terhadap pasar karbon berintegritas tinggi. Upaya ini akan membuka peluang senilai US$450 juta di Provinsi Riau. Keahlian di bidang pasar karbon juga akan diperkuat melalui UNFCCC, dengan dukungan PBB untuk menyelaraskan registri karbon nasional dengan standar internasional.Melalui keahlian khusus UNCTAD, kami juga mengidentifikasi peluang investasi dalam rantai nilai rumput laut Indonesia yang sedang berkembang, mulai dari biostimulan pertanian hingga bioplastik. Upaya ini bertujuan meningkatkan penciptaan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat kapasitas industri, serta memperluas sumber penghidupan dan peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir. Model untuk Mempercepat Pencapaian SDGs di Tingkat GlobalSaat kita memasuki tahap akhir menuju 2030 melalui Kerangka Kerja Sama Pembangunan Berkelanjutan Indonesia–PBB 2026–2030 yang diperbarui, pengalaman Indonesia menunjukkan bagaimana aksi PBB yang terpadu dapat menjembatani kebijakan nasional, pasar modal, inovasi, dan inklusi. Dengan mengubah modal awal menjadi perubahan sistemik serta menghubungkan prioritas nasional dengan keahlian global, Indonesia dan PBB tengah mendorong model kerja sama pembangunan yang inovatif dan digerakkan oleh kebutuhan nasional, serta relevan bagi negara-negara di kawasan Selatan Global (Global South) dan wilayah lainnya. Catatan:Seluruh program Joint SDG Fund dipimpin oleh Kepala Perwakilan PBB dan dilaksanakan oleh badan, dana, serta program dalam sistem pembangunan PBB. Joint SDG Fund menyampaikan apresiasi atas kontribusi Uni Eropa serta Pemerintah Belgia, Denmark, Jerman, Irlandia, Italia, Luksemburg, Monako, Kerajaan Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Republik Korea, Kerajaan Arab Saudi, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Arab Gulf Programme for Development. Artikel ini pertama kali dipublikasikan di situs UN Joint SDG Fund, https://jointsdgfund.org/article/joint-un-action-indonesia-turning-catalytic-investments-systemic-change, pada 2 November 2026
1 of 5
Cerita
08 September 2026
Bagaimana Kota Tomohon Memberi Kehidupan Kedua bagi Sisa Makanan
Setiap hari, Kota Tomohon menghasilkan 51,6 ton sampah. Selama bertahun-tahun, sebagian besar sampah tersebut berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) yang sejak awal tidak dirancang untuk menampung beban sebesar itu. Namun, di Tomohon Barat, seorang warga perlahan mengubah cerita tersebut. Sore itu cerah di Tomohon Barat ketika Jemmy Makasala berjalan menyusuri lingkungan tempat tinggal warga, berhenti dari waktu ke waktu untuk menyapa dan memeriksa keadaan warga di sepanjang rute yang sudah sangat dikenalnya. Sebagai fasilitator masyarakat setempat, Jemmy telah bertahun-tahun bekerja bersama warga di wilayah ini. Pada sore itu, seseorang memanggilnya dari kebun dan memintanya melihat tanaman yang mereka rawat.Jemmy memenuhi permintaan itu, seperti yang biasa ia lakukan, dengan memberikan saran praktis tentang cara merawat kebun di tanah vulkanik Tomohon yang terkenal subur. Namun, perhatiannya juga tertuju pada sesuatu yang terletak di samping pintu depan rumah: sebuah kantong kompos.Jemmy percaya bahwa tidak ada sesuatu pun yang seharusnya benar-benar terbuang. Ia mengolah sisa makanan menjadi pupuk dan eco-enzyme, sekaligus mendorong masyarakat di berbagai wilayah Tomohon untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang.“Di wilayah ini, kami memiliki sekitar 60 kantong kompos,” jelas Jemmy. “Jarak antar-kantong sekitar 100 meter. Dengan begitu, setiap warga dapat dengan mudah mengakses kantong untuk membuang sampah organik mereka.”Jumlah ini memang masih terbatas. Namun, mengingat hampir 70 persen sampah harian Tomohon merupakan sampah organik, solusi sederhana berbasis masyarakat seperti ini berpotensi memberikan dampak yang berarti. Kota yang hidup berdampingan dengan sampahnya sendiri Tomohon merupakan rumah bagi 205.448 penduduk di Sulawesi Utara. Seperti banyak kota yang terus berkembang, pertumbuhan Tomohon membawa peluang sekaligus persoalan sampah. Selama bertahun-tahun, volume sampah meningkat lebih cepat daripada kapasitas sistem pengelolaan sampah yang tersedia.Bagi keluarga yang tinggal di sekitar Tara-Tara, TPA utama Tomohon, persoalan ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bau yang masuk melalui jendela rumah, kekhawatiran tentang rembesan yang dapat mencemari sumber air yang digunakan anak-anak mereka, serta perasaan pasrah terhadap sistem yang sejak awal tidak dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan mereka.TPA tersebut kesulitan mengimbangi volume sampah yang masuk. Air lindi merembes ke sumber-sumber air di sekitarnya. Pembusukan yang tidak terkendali menghasilkan metana yang dilepaskan ke atmosfer. “Kota Tomohon menghadapi lima tantangan utama dalam pengelolaan sampah,” ujar Wali kota Caroll Senduk. Tantangan tersebut meliputi terbatasnya koordinasi lintas sektor, para pemangku kepentingan yang masih berjalan sendiri-sendiri, belum adanya kerangka pengelolaan sampah terpadu, data yang belum dapat diandalkan, serta kesenjangan antara praktik terbaik dan sistem formal yang ada. Menyatukan Kota untuk Berdialog dan Mencari SolusiTantangan-tantangan inilah yang ingin dijawab oleh ASEAN dan UN-Habitat. Melalui ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy (ASUS) Project – Phase II, UN-Habitat bekerja sama dengan berbagai kota di kawasan untuk mengembangkan pendekatan terpadu dan berpusat pada masyarakat dalam menangani persoalan perkotaan, termasuk pengelolaan sampah.ASEAN dan UN-Habitat mempertemukan 70 pejabat pemerintah kota, warga, dan para ahli teknis di Tomohon. Tujuannya bukan sekadar membahas persoalan, tetapi menghadapinya secara terbuka dan bersama-sama. Dari proses tersebut, lahirlah sebuah peta jalan yang kemudian mengarah pada penyusunan proposal teknis bersama untuk memperluas apa yang sudah berjalan di lapangan: Pusat Pengolahan Sampah Organik Terpadu Tomohon (PPSOT).Di fasilitas PPSOT yang saat ini diawasi Jemmy, sampah organik diolah menjadi eco-enzyme dan pupuk cair. Menurut Jemmy, eco-enzyme memiliki beragam kegunaan. Bahan ini dapat digunakan sebagai pupuk alami untuk membantu sayuran tumbuh lebih besar. Eco-enzyme juga dapat diolah menjadi disinfektan, bahkan digunakan sebagai bahan dalam pembuatan sabun. Di sebelah fasilitas tersebut terdapat kebun percontohan yang menunjukkan bagaimana sisa makanan dapat diubah menjadi kompos, menyuburkan tanah, dan kemudian membantu menumbuhkan kembali bahan pangan.“Saya masih terus bereksperimen dengan eco-enzyme. Kami memberikannya secara gratis kepada siapa saja yang ingin menggunakannya. Kami bahkan menyemprotkannya di TPA untuk membantu mengurangi bau, sebagai langkah sementara untuk mengurangi polusi udara,” ujar Jemmy.Yang tak kalah penting, Jemmy memfasilitasi kelompok-kelompok perempuan di masyarakat untuk terlibat aktif dalam pemilahan dan pengomposan sampah, sekaligus memperoleh pendapatan dengan menjual kembali produk yang dapat didaur ulang. Pendapatan tersebut kemudian digunakan untuk kegiatan pertanian masyarakat, pelibatan anak muda, dan proyek pendidikan. Ini merupakan salah satu bentuk dukungan ASUS terhadap berbagai inisiatif perkotaan yang berfokus pada masyarakat dan digerakkan dari tingkat akar rumput.Bagi Jemmy, inisiatif ini memiliki potensi besar, tetapi ia juga terbuka mengenai keterbatasannya. Saat ini, fasilitas tersebut baru mampu mengolah sebagian kecil sampah organik di wilayah tersebut, sementara sampah dari pasar belum terintegrasi. Keterbatasan kapasitas kontainer membuat PPSOT hanya dapat beroperasi setiap tiga hari sekali. Mendorong partisipasi masyarakat yang lebih luas juga masih menjadi tantangan.“Saya menolak menggunakan kata ‘sampah’,” tambah Jemmy, “karena seharusnya tidak ada yang terbuang; semuanya dapat dimanfaatkan kembali.” Jemmy membayangkan masa depan dengan lebih banyak kontainer, lebih banyak titik pengomposan, dan keterlibatan masyarakat yang lebih luas, sehingga semakin sedikit sampah yang berakhir di TPA. Membayangkan kembali masa depan sebuah kotaAmbisinya bukan sekadar menciptakan Tomohon yang lebih bersih. Yang ingin dibangun adalah kota yang lebih terhubung, di mana masyarakat tidak hanya menjadi penonton perubahan.Kota di mana warga yang memanggil Jemmy untuk bertanya tentang tanaman di kebun mereka juga menjadi warga yang berpikir dua kali sebelum membuang sisa sayuran di pinggir jalan.Kota di mana bau dari TPA menjadi bagian dari masa lalu, bukan lagi kenyataan yang harus dihadapi setiap hari.“Jika setiap orang di komunitas ini dapat mengelola sampahnya sendiri, kita akan secara signifikan mengurangi beban TPA, dan mungkin bahkan dapat mewujudkan komunitas yang benar-benar bebas sampah,” ujar seorang warga Kecamatan Tomohon Barat. -----------------------------ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy (ASUS) Project – Phase II Proyek ASEAN “Accelerating the Implementation of the ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy Phase II” atau “ASUS Project Phase II”, yang dilaksanakan oleh UN-Habitat dengan dukungan Pemerintah Australia melalui Australia for ASEAN Futures Initiative (AUS4ASEAN), bertujuan mempercepat penerapan praktik urbanisasi berkelanjutan dengan mengimplementasikan ASEAN Sustainable Urbanisation Strategy (ASUS) di kota-kota sekunder dan menengah.Phase II tetap menempatkan ASUS sebagai pusat upaya urbanisasi berkelanjutan di ASEAN, sekaligus memperkuat konektivitas dan kegiatan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan New Urban Agenda (NUA) di seluruh kawasan.-----------------------------Artikel ini pertama kali diterbitkan di situs UN-Habitat dengan judul, 'A city rethinking waste: lessons from Tomohon' , pada16 April 2026.
1 of 5
Cerita
29 Juni 2026
Kenalan dengan Para Perempuan Pemimpin, dan Rasakan Sehari Menjadi Mereka!
Kamu sudah membawa perubahan di komunitasmu. Kini saatnya melihat bagaimana perubahan itu diwujudkan dari meja para pengambil keputusan.CEO for a Day adalah kesempatan istimewa bagi perempuan muda dari seluruh Indonesia untuk mendampingi (shadowing) para pemimpin perempuan inspiratif di Indonesia, mulai dari CEO dan eksekutif perusahaan hingga Kepala Badan PBB.Jika kamu berusia 18–25 tahun dan telah mengambil aksi nyata untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), baik melalui kegiatan sukarela, aksi iklim, pendidikan, kewirausahaan, pemberdayaan masyarakat, advokasi, inovasi, atau inisiatif lain yang membawa dampak positif, kami ingin mendengar kisahmu.Kirimkan video singkat tentang perjalananmu. Jika terpilih, kamu akan menghabiskan satu hari bersama seorang pemimpin perempuan, menyaksikan langsung bagaimana kepemimpinan dijalankan di balik layar, mengikuti berbagai pertemuan, mempelajari proses pengambilan keputusan penting, serta berdiskusi secara terbuka mengenai tantangan, peluang, dan makna menjadi seorang pemimpin. Kenalan dengan para perempuan pemimpin! Aparna Saxena CEO, AHANA Aparna Bhatnagar Saxena adalah seorang feminis, advokat, vegan, pegiat lingkungan, dan pembelajar sepanjang hayat. Ia merupakan pendiri AHANA, sebuah ekosistem yang menghadirkan berbagai merek artisan dan etis untuk mendorong gaya hidup konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Ia juga menjabat sebagai CEO NOTIME TOWASTE, laboratorium desain sirkular yang mengembangkan material inovatif dari limbah guna mendukung ekonomi sirkular dan solusi desain berkelanjutan.Aparna juga merupakan salah satu pendiri Vriksh Impact Partners, perusahaan investasi dan konsultasi berbasis dampak di India yang mendukung bisnis tahap awal, khususnya usaha yang dipimpin perempuan dan berbasis nabati. Selain itu, ia mendampingi berbagai perusahaan di India dalam menyusun dan menerapkan strategi Environmental, Social, and Governance (ESG).Sebagai Indonesia Lead untuk Asia Start-up Network, Aparna berperan membangun ekosistem yang mendukung para wirausaha dan pelaku bisnis di kawasan ASEAN. Ia aktif menjadi mentor bagi pendiri startup perempuan dan wirausaha berdampak sosial di Asia Pasifik dalam bidang kepemimpinan, pengelolaan usaha, ESG, serta membangun ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan.Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang logistik, e-commerce, dan bisnis berdampak, Aparna pernah tinggal di empat negara di Asia dan memiliki pemahaman mendalam tentang budaya, pasar, serta ekosistem kewirausahaan di kawasan ini.Aparna merupakan lulusan Teknik Mesin dan meraih gelar MBA di bidang Manufaktur dan Operasi. Atas kiprahnya, ia telah menerima berbagai penghargaan, termasuk UN Women WEPs Awards dan Don Norman Design Award. Donna Priadi Managing Director, AmCham Donna Priadi adalah profesional Public Affairs berpengalaman dengan lebih dari 30 tahun kiprah di bidang kebijakan publik, hubungan pemerintah, komunikasi strategis, dan manajemen proyek. Sebagai mantan Country Director Indonesia di Vriens & Partners serta Director of Corporate & Government Affairs di General Electric (GE) Indonesia, ia memimpin strategi regulasi, advokasi, dan keterlibatan pemangku kepentingan di berbagai sektor industri.Sebelumnya, Donna juga memegang posisi kepemimpinan di BP, Pertamina Hulu Energi, dan GE, dengan mengintegrasikan hubungan pemerintah, hubungan masyarakat, serta advokasi kebijakan untuk menyelaraskan tujuan bisnis dengan dinamika regulasi yang kompleks.Di luar karier profesionalnya, Donna mendirikan KIND Denim, sebuah usaha fesyen berkelanjutan yang mengangkat produk denim ramah lingkungan sekaligus mempromosikan karya pengrajin Indonesia. Ia juga aktif mendukung pemberdayaan perempuan melalui berbagai organisasi yang berfokus pada pengembangan kepemimpinan perempuan.Donna meraih gelar Sarjana Arsitektur dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan gelar MBA dengan predikat kehormatan dari University of San Francisco. Atas kontribusinya, ia menerima berbagai penghargaan, termasuk GE Global Pinnacle Award dan Asia Pacific Communications Award.Selain berkarier di dunia profesional, Donna juga merupakan atlet ketahanan (endurance athlete). Ia telah menyelesaikan enam ajang World Marathon Majors serta triathlon Ironman 70.3. Semangatnya dalam kepemimpinan, kolaborasi, dan menciptakan dampak positif terus menginspirasi serta menjembatani dunia industri, kebijakan publik, dan masyarakat. Elim SritabaChief Sustainability Officer, APP Group Elim Sritaba adalah Chief Sustainability Officer di APP Group, salah satu perusahaan global terkemuka di bidang kehutanan, pulp, dan kertas. Sejak 2013, ia memimpin implementasi Forest Conservation Policy (FCP) di Sinar Mas Forestry. Sebelumnya, sebagai Director of Strategic Corporate Relations & Human Resources di Sinar Mas Forestry, ia bertanggung jawab atas strategi komunikasi, hubungan dengan pemerintah, serta pengelolaan keberlanjutan di tiga divisi utama perusahaan.Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang keuangan, kehutanan, manajemen rantai pasok, dan strategi bisnis, Elim aktif berperan di berbagai dewan dan komite strategis. Selain menjadi anggota dewan Indonesia Global Compact Network (IGCN), ia juga mendukung inisiatif G20 EMPOWER dalam mendorong pemberdayaan perempuan dan kesempatan yang setara.Baru-baru ini, Elim ditunjuk sebagai Wakil Ketua Bidang Tata Kelola Keberlanjutan dan Bisnis Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia untuk periode 2024–2029. Ia juga berkontribusi di berbagai badan penasihat dan eksekutif, termasuk ASEAN Investment Framework Advisory Committee, Komite SDGs APINDO, Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), serta Advisory Board ASEAN Innovation Business Platform. Irma Fitria NasutionCEO, Bee Well Indonesia Irma Fitria Nasution adalah CEO Bee Well Indonesia yang memiliki keahlian di bidang manajemen ekonomi, kepemimpinan eksekutif, dan pengembangan produk yang berdampak. Berbekal semangat besar terhadap pendidikan, keberlanjutan, dan kesehatan mental, Irma saat ini sedang menempuh program doktor di bidang Manajemen untuk mengembangkan model organisasi yang inovatif dan dapat diterapkan dalam skala luas.Misi utamanya adalah mengintegrasikan ketahanan (resilience), pendidikan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), serta praktik berkelanjutan ke dalam ekosistem sekolah di seluruh Indonesia. Seluruh inisiatif tersebut dirancang agar sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), sehingga mampu menciptakan dampak positif yang nyata bagi generasi mendatang. Emmeline HambaliDirector of Shared Service, Dynapack Asia Emmeline Hambali adalah seorang pemimpin di tingkat dewan dan eksekutif dengan pengalaman lebih dari dua dekade di Dynapack Asia, perusahaan kemasan plastik kaku yang beroperasi di berbagai negara di Asia. Ia memimpin berbagai fungsi strategis perusahaan, meliputi Sumber Daya Manusia, Rantai Pasok, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Teknologi Informasi, serta tata kelola Keberlanjutan dan ESG (Environmental, Social, and Governance).Dengan pengalaman dalam tata kelola perusahaan, transformasi bisnis, dan kepemimpinan lintas fungsi, Emmeline berperan penting dalam memperkuat pengembangan sumber daya manusia, sistem organisasi, ketahanan rantai pasok, serta tata kelola perusahaan di kawasan Asia Pasifik. Kepemimpinannya berfokus pada peningkatan keunggulan operasional, penerapan praktik bisnis berkelanjutan, dan penciptaan nilai jangka panjang bagi perusahaan serta para pemangku kepentingan. Indri Pramitaswari (Mita) Guritno Senior Partner, HHP Law Firm Indri Pramitaswari (“Mita”) Guritno merupakan ahli di bidang pembiayaan proyek, restrukturisasi utang, structured finance, dan transaksi perbankan. Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, ia telah memberikan pendampingan hukum kepada debitur maupun kreditur dalam berbagai transaksi pembiayaan, termasuk pembiayaan proyek, pembiayaan properti, pembiayaan akuisisi, pembiayaan perdagangan, serta pembiayaan syariah.Mita memiliki pengalaman luas dalam menangani transaksi lintas negara yang melibatkan berbagai yurisdiksi, mencakup sektor perbankan, pasar modal, pertambangan, properti, sumber daya alam, dan hukum korporasi. Selama kariernya, ia telah memimpin berbagai transaksi berskala besar dan dikenal luas sebagai salah satu praktisi hukum terkemuka di bidang perbankan dan keuangan di Indonesia.Selain menjalankan praktik hukumnya, Mita juga aktif di berbagai organisasi. Ia menjabat sebagai Vice President for Governance Partnership and Policy Advocacy di UN Global Compact Network Indonesia (IGCN) dan pernah menjadi Indonesian Advocate untuk G20 EMPOWER pada 2021, sebuah aliansi sektor swasta yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi dan kepemimpinan perempuan.Mita secara konsisten masuk dalam jajaran pengacara terbaik versi Chambers, The Legal 500, IFLR1000, Asia Business Law Journal, serta berbagai publikasi hukum terkemuka lainnya. Penghargaan yang baru-baru ini diraihnya antara lain Band 1 untuk Banking & Finance dari Chambers Asia (2017–2026), Leading Individual for Banking & Finance dari The Legal 500, masuk dalam The 200 Club: Indonesia’s Most Influential Lawyers versi Hukumonline (2025–2026), terpilih sebagai salah satu Indonesia’s Top 100 Lawyers versi Asia Business Law Journal (2026), serta meraih penghargaan Managing Partner of the Year pada ALB Indonesia Legal Awards 2025. Juliana CenPresident Director, HP Indonesia Juliana Cen adalah President Director HP Indonesia. Sebagai pemimpin di industri teknologi dengan pengalaman lebih dari dua dekade, ia telah mendorong pertumbuhan bisnis dan inovasi di berbagai perusahaan teknologi.Di HP Indonesia, Juliana memimpin seluruh lini bisnis serta bertanggung jawab mengadaptasi inovasi global HP agar sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia. Ia juga berperan penting dalam menyusun strategi pemasaran, memperkuat posisi perusahaan, serta mengintegrasikan bisnis perangkat cetak, komputer pribadi, layanan, dan solusi HP.Sebelum bergabung dengan HP, Juliana memegang berbagai posisi kepemimpinan di ASUS dan Microsoft. Di ASUS, ia berhasil mengembangkan bisnis notebook konsumen hingga meraih lebih dari separuh pangsa pasar. Sementara di Microsoft, ia membangun dan mengembangkan bisnis layanan cloud untuk segmen usaha kecil dan menengah (UKM), sekaligus meningkatkan pendapatan mitra bisnis secara signifikan.Sepanjang kariernya, Juliana telah membimbing berbagai perusahaan integrator sistem dalam membangun kemitraan solusi bernilai tinggi dan menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan. Gaya kepemimpinannya berlandaskan visi strategis, eksekusi yang kuat, serta komitmen untuk memberdayakan orang lain melalui keteladanan, pembinaan, dan kepedulian.Juliana juga dikenal sebagai pendukung inklusivitas, hak penyandang disabilitas, dan pemberdayaan perempuan. Sebagai individu dengan Asperger Syndrome dan ibu dari anak kembar dengan autisme, ia memegang prinsip hidup: "Jika tidak ada pintu yang terbuka untuk kita, mari kita bangun pintu kita sendiri." Simrin SinghDirector, Kantor Perwakilan ILO di Indonesia dan Timor-Leste Simrin Singh ditunjuk sebagai Direktur Kantor Perwakilan ILO di Indonesia dan Timor-Leste yang baru pada bulan Februari 2024. Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Direktur Kantor Perwakilan ILO untuk Sri Lanka dan Maladewa selama enam tahun dari 2017 hingga 2023. Sebelumnya, Singh telah bekerja di ILO sejak tahun 2000 di Tanzania, Jenewa, Asia Selatan, dan Kantor Regional untuk Asia dan Pasifik. Singh meraih gelar Sarjana Antropologi dan Sosiologi dari Connecticut College di Amerika Serikat dan gelar Master di bidang Studi Pembangunan Internasional dari George Washington University, Amerika Serikat. Verlyana HitipeuwCEO & Chief Consultant, Kiroyan Partners Verlyana "Veve" Hitipeuw adalah CEO & Chief Consultant Kiroyan Partners, salah satu perusahaan konsultan komunikasi strategis dan urusan publik terkemuka di Indonesia, sekaligus Managing Partner KREAB Indonesia.Dengan pengalaman luas di bidang komunikasi strategis, urusan publik, keterlibatan pemangku kepentingan, dan pengelolaan reputasi perusahaan, Veve telah mendampingi berbagai perusahaan dan organisasi dari beragam sektor. Ia mengawali kariernya di bidang pengembangan media bersama Friedrich-Ebert-Stiftung, kemudian memperluas pengalaman internasionalnya di Deutsche Welle, Jerman. Veve bergabung dengan Kiroyan Partners pada 2014. Setelah memegang berbagai posisi kepemimpinan di sektor korporasi dan konsultan, ia dipercaya menjadi CEO Kiroyan Partners pada 2020.Sejak 2017, Veve juga mengajar di Swiss German University, dengan mata kuliah manajemen reputasi, komunikasi strategis, dan public speaking. Ia meraih gelar sarjana dari Universitas Indonesia serta gelar magister di bidang International Media Studies di Jerman melalui beasiswa DAAD dan Deutsche Welle Academy.Di luar perannya sebagai konsultan, Veve menjabat sebagai Co-Chair Business Integrity Committee di ICC Indonesia dan pernah menjadi Indonesia G20 EMPOWER Advocate. Ia dikenal sebagai pendukung kuat praktik bisnis yang berintegritas, keberlanjutan, dan kepemimpinan perempuan. Nurmaria Sarosa Founder, PT Selaras Logistik Indonesia Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di bidang transportasi, logistik, dan rantai pasok, Nurmaria Sarosa dikenal sebagai pemimpin yang mampu membangun tim berkinerja tinggi, membimbing para profesional, serta mendorong budaya belajar sepanjang hayat. Sebagai Ketua Women in Logistics and Transport (WiLAT) Indonesia, yang kini memasuki masa jabatan keduanya, ia berkomitmen memperkuat kepemimpinan perempuan dan memberdayakan generasi baru profesional di industri logistik dan transportasi.Ia juga merupakan pembicara berpengalaman yang telah mengisi berbagai konferensi, seminar, lokakarya, dan pelatihan di tingkat nasional maupun internasional. Atas kontribusinya, ia menerima penghargaan Most Outstanding Women in Financial Sector and State-Owned Enterprise dari Infobank Magazine.Selain aktif di dunia profesional, ia juga menulis buku Angin Perubahan: Catatan Kecil Tentang Pemberdayaan Perempuan Menuju Kesetaraan, yang mencerminkan komitmennya terhadap kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Ia juga menulis salah satu bab berjudul Saya Bukan Siapa-Siapa dalam buku karya 28 perempuan Indonesia di sektor logistik dan transportasi, yang mengisahkan perjalanannya dari awal yang sederhana hingga menjadi pemimpin di bidangnya. Josefhine ChitraSVP Public Affairs & Communications, TBS Energi Utama Josefhine menjabat sebagai penasihat strategis CEO di TBS, dengan memimpin advokasi kebijakan, keterlibatan pemangku kepentingan, dan strategi komunikasi dalam transformasi bisnis perusahaan dari sektor batu bara menuju sektor rendah karbon, termasuk energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan mobilitas listrik.Sebelumnya, Josefhine menghabiskan tujuh tahun di GoTo, sejak masa awal Gojek sebagai startup, proses merger dengan Tokopedia, hingga penawaran saham perdana (IPO) GoTo, sebagai Head of Public Affairs and Corporate Communications. Dalam peran tersebut, ia menangani komunikasi krisis organisasi, transformasi pasca-merger, restrukturisasi perusahaan, serta komunikasi pasar modal di lingkungan startup yang berkembang pesat maupun perusahaan terbuka.Kariernya mencakup berbagai sektor, mulai dari lembaga think tank internasional seperti World Resources Institute (WRI) di Amerika Serikat dan Global Public Policy Institute (GPPi) di Jerman, sektor pembangunan bersama UK Department for International Development (DFID), hingga konsultan komunikasi strategis Maverick.Josefhine meraih gelar sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan dan memperoleh beasiswa penuh dari Pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan program Magister Development Management di London School of Economics. Ia juga mengajar di Universitas Indonesia dan PPM School of Management.Di luar perannya di dunia korporasi, Josefhine merupakan salah satu pendiri Overlooked Indonesia, sebuah platform media komunitas yang memperkenalkan destinasi-destinasi Indonesia yang belum banyak dikenal sekaligus mendorong pengembangan ekonomi masyarakat setempat. Gita Sabharwal Kepala Perwakilan PBB di Indonesia Gita Sabharwal dari India ditunjuk sebagai Kepala Perwakilan PBB di Indonesia dengan persetujuan dari Pemerintah Indonesia. Beliau memimpin 27 lembaga PBB di bawah Tim Negara PBB untuk mempercepat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui kemitraan dengan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Ibu Sabharwal memiliki pengalaman hampir 30 tahun dalam pembangunan yang mendukung transisi iklim, perdamaian yang berkelanjutan, tata kelola pemerintahan, dan kebijakan sosial, serta memanfaatkan teknologi digital dan data untuk mempercepat pencapaian SDG.
Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Kepala Perwakilan PBB di Thailand dan sebagai Penasihat Pembangunan Perdamaian dan Pembangunan di Perserikatan Bangsa-Bangsa di Sri Lanka. Sebelum bergabung dengan PBB, Ibu Sabharwal adalah Wakil Perwakilan The Asia Foundation untuk Maladewa dan Sri Lanka dan pernah menjabat sebagai Penasihat Kemiskinan dan Kebijakan untuk Departemen Pembangunan Internasional Inggris (DFID) di India dan Viet Nam.
Gita Sabharwal meraih gelar Master di bidang Manajemen Pembangunan dari University of Wales, Inggris. Ulziisuren JamsranPerwakilan UN Women di Indonesia Ulziisuren Jamsran mulai menjabat sebagai Perwakilan UN Women di Republik Indonesia dan penghubung untuk ASEAN sejak awal Januari. Sebelumnya, ia pernah bertugas sebagai Perwakilan di Republik Kirgizstan (juga mencakup Tajikistan dan Uzbekistan), Perwakilan Khusus di Palestina, serta Perwakilan di Moldova yang juga mencakup Ukraina sebagai kantor program.
Sebagai profesional pembangunan asal Mongolia yang berpengalaman, Ulziisuren memiliki 30 tahun pengalaman praktis yang luas. Selama 25 tahun di antaranya, ia telah memimpin program-program strategis dan inovatif, mengembangkan kemitraan, serta memegang peran kepemimpinan di tingkat internasional, khususnya dalam bidang pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan (GEWE).
Ia pernah bekerja di UNDP, UNIFEM, dan UN Women, serta pernah menjabat di Pemerintah Mongolia. Ulziisuren juga telah mendukung tim PBB di Azerbaijan, Armenia, Sudan Selatan, dan Sri Lanka melalui berbagai misi jangka pendek.
Ulziisuren adalah alumnus dari HEC Paris, University of Oxford, dan Universitas Negeri Mongolia, dengan latar belakang di bidang Kepemimpinan Adaptif dan Ekonomi. Ia fasih berbahasa Inggris dan Rusia, serta telah menikah dan memiliki dua anak. Maki Katsuno-Hayashikawa Direktur, Kantor Regional Multisektoral UNESCO di Jakarta, dan Perwakilan UNESCO untuk Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Timor Leste Maki Katsuno-Hayashikawa memiliki pengalaman hampir 30 tahun di UNESCO, UNICEF, dan JICA, baik di tingkat global, regional, maupun negara. Beliau menjabat sebagai Direktur Kantor Regional Multisektoral UNESCO di Jakarta, dan Perwakilan UNESCO untuk Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Timor Leste pada bulan Juli 2023.Sebelum penugasannya saat ini, ia menjabat sebagai Direktur Divisi Pendidikan 2030 di Kantor Pusat UNESCO yang mengawasi program-program global UNESCO untuk Pendidikan Gender dan Inklusif, Pendidikan Tinggi, Pendidikan dalam Situasi Darurat, dan memimpin mekanisme koordinasi SDG4 global. Selain itu, selama tahun 2022, beliau menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Sekretariat untuk Konferensi Tingkat Tinggi Transformasi Pendidikan yang diselenggarakan oleh Sekretaris Jenderal PBB pada bulan September 2022. Maki meraih gelar Master di bidang Perencanaan Pendidikan dari Institute of Education, University College London, dan di bidang Pendidikan Anak Usia Dini dari South Australia University; serta gelar Sarjana di bidang Hubungan Internasional dari London School of Economics and Political Science. Adriani WahjantoOfficer-in-Charge, UNHCR Indonesia Adriani Wahjanto saat ini menjabat sebagai Officer-in-Charge di Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) Indonesia sejak 16 Februari 2026. Dalam perannya, ia memimpin upaya UNHCR di Indonesia untuk melindungi pengungsi, pencari suaka, dan individu tanpa kewarganegaraan, dengan bekerja sama erat bersama Pemerintah Indonesia, mitra kemanusiaan, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal. Adriani memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun bersama UNHCR di berbagai negara di Asia dan Afrika, dengan keahlian dalam penguatan sistem suaka nasional, perlindungan berbasis masyarakat, penanganan situasi pengungsian darurat, serta upaya mengatasi masalah tanpa kewarganegaraan.Sebelumnya, Adriani menjabat sebagai Deputy Representative (Protection) UNHCR di Tiongkok dan Deputy Representative (ad interim) di Myanmar, setelah sebelumnya menjadi Senior Protection Officer di Yangon. Ia juga memimpin program perlindungan berbasis masyarakat sebagai Senior Protection Officer di Cox’s Bazar, Bangladesh, serta pernah bertugas sebagai Protection Officer di Tajikistan, Thailand, dan Republik Demokratik Kongo. Kariernya di UNHCR dimulai sebagai Eligibility Officer di Malaysia dan Kamboja, dengan fokus pada proses penentuan status pengungsi.Adriani meraih gelar Sarjana Hukum dari University College London dan merupakan anggota Malaysian Bar.
Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Kepala Perwakilan PBB di Thailand dan sebagai Penasihat Pembangunan Perdamaian dan Pembangunan di Perserikatan Bangsa-Bangsa di Sri Lanka. Sebelum bergabung dengan PBB, Ibu Sabharwal adalah Wakil Perwakilan The Asia Foundation untuk Maladewa dan Sri Lanka dan pernah menjabat sebagai Penasihat Kemiskinan dan Kebijakan untuk Departemen Pembangunan Internasional Inggris (DFID) di India dan Viet Nam.
Gita Sabharwal meraih gelar Master di bidang Manajemen Pembangunan dari University of Wales, Inggris. Ulziisuren JamsranPerwakilan UN Women di Indonesia Ulziisuren Jamsran mulai menjabat sebagai Perwakilan UN Women di Republik Indonesia dan penghubung untuk ASEAN sejak awal Januari. Sebelumnya, ia pernah bertugas sebagai Perwakilan di Republik Kirgizstan (juga mencakup Tajikistan dan Uzbekistan), Perwakilan Khusus di Palestina, serta Perwakilan di Moldova yang juga mencakup Ukraina sebagai kantor program.
Sebagai profesional pembangunan asal Mongolia yang berpengalaman, Ulziisuren memiliki 30 tahun pengalaman praktis yang luas. Selama 25 tahun di antaranya, ia telah memimpin program-program strategis dan inovatif, mengembangkan kemitraan, serta memegang peran kepemimpinan di tingkat internasional, khususnya dalam bidang pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan (GEWE).
Ia pernah bekerja di UNDP, UNIFEM, dan UN Women, serta pernah menjabat di Pemerintah Mongolia. Ulziisuren juga telah mendukung tim PBB di Azerbaijan, Armenia, Sudan Selatan, dan Sri Lanka melalui berbagai misi jangka pendek.
Ulziisuren adalah alumnus dari HEC Paris, University of Oxford, dan Universitas Negeri Mongolia, dengan latar belakang di bidang Kepemimpinan Adaptif dan Ekonomi. Ia fasih berbahasa Inggris dan Rusia, serta telah menikah dan memiliki dua anak. Maki Katsuno-Hayashikawa Direktur, Kantor Regional Multisektoral UNESCO di Jakarta, dan Perwakilan UNESCO untuk Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Timor Leste Maki Katsuno-Hayashikawa memiliki pengalaman hampir 30 tahun di UNESCO, UNICEF, dan JICA, baik di tingkat global, regional, maupun negara. Beliau menjabat sebagai Direktur Kantor Regional Multisektoral UNESCO di Jakarta, dan Perwakilan UNESCO untuk Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Timor Leste pada bulan Juli 2023.Sebelum penugasannya saat ini, ia menjabat sebagai Direktur Divisi Pendidikan 2030 di Kantor Pusat UNESCO yang mengawasi program-program global UNESCO untuk Pendidikan Gender dan Inklusif, Pendidikan Tinggi, Pendidikan dalam Situasi Darurat, dan memimpin mekanisme koordinasi SDG4 global. Selain itu, selama tahun 2022, beliau menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Sekretariat untuk Konferensi Tingkat Tinggi Transformasi Pendidikan yang diselenggarakan oleh Sekretaris Jenderal PBB pada bulan September 2022. Maki meraih gelar Master di bidang Perencanaan Pendidikan dari Institute of Education, University College London, dan di bidang Pendidikan Anak Usia Dini dari South Australia University; serta gelar Sarjana di bidang Hubungan Internasional dari London School of Economics and Political Science. Adriani WahjantoOfficer-in-Charge, UNHCR Indonesia Adriani Wahjanto saat ini menjabat sebagai Officer-in-Charge di Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) Indonesia sejak 16 Februari 2026. Dalam perannya, ia memimpin upaya UNHCR di Indonesia untuk melindungi pengungsi, pencari suaka, dan individu tanpa kewarganegaraan, dengan bekerja sama erat bersama Pemerintah Indonesia, mitra kemanusiaan, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal. Adriani memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun bersama UNHCR di berbagai negara di Asia dan Afrika, dengan keahlian dalam penguatan sistem suaka nasional, perlindungan berbasis masyarakat, penanganan situasi pengungsian darurat, serta upaya mengatasi masalah tanpa kewarganegaraan.Sebelumnya, Adriani menjabat sebagai Deputy Representative (Protection) UNHCR di Tiongkok dan Deputy Representative (ad interim) di Myanmar, setelah sebelumnya menjadi Senior Protection Officer di Yangon. Ia juga memimpin program perlindungan berbasis masyarakat sebagai Senior Protection Officer di Cox’s Bazar, Bangladesh, serta pernah bertugas sebagai Protection Officer di Tajikistan, Thailand, dan Republik Demokratik Kongo. Kariernya di UNHCR dimulai sebagai Eligibility Officer di Malaysia dan Kamboja, dengan fokus pada proses penentuan status pengungsi.Adriani meraih gelar Sarjana Hukum dari University College London dan merupakan anggota Malaysian Bar.
1 of 5
Cerita
22 Juni 2026
Meningkatkan Ketahanan Energi: 8 Cara Indonesia Bermitra dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa
Di tengah volatilitas pasar energi global yang terus berlanjut, Indonesia mempercepat upaya untuk memperkuat ketahanan energinya, memastikan pasokan energi yang andal, terjangkau, dan tangguh bagi rumah tangga, dunia usaha, serta layanan-layanan penting. Selama bertahun-tahun, berbagai badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah bermitra dengan Pemerintah Indonesia dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk membantu mendiversifikasi sumber energi nasional, meningkatkan efisiensi energi, dan memperkuat ketahanan sistem energi. Selain mendukung transisi hijau dan mengurangi emisi gas rumah kaca, upaya ini juga secara langsung memperkuat kemampuan Indonesia dalam menghadapi guncangan global.Berikut delapan cara PBB bermitra dengan Indonesia untuk membangun sistem energi yang lebih aman dan siap menghadapi masa depan.1. Memperkuat jaringan listrik untuk mengintegrasikan lebih banyak energi terbarukanUntuk membuat sistem kelistrikan Indonesia lebih tangguh, PLN memimpin upaya besar untuk memodernisasi jaringan listrik nasional. Kantor Layanan Proyek PBB (UNOPS) berkontribusi dalam pengembangan pusat kendali pintar (smart control centre)yang baru, serta memberikan masukan terkait standar penyimpanan energi berbasis baterai di tingkat nasional. PLN dan UNOPS telah mengidentifikasi potensi energi surya lebih dari 2 GW yang dapat diintegrasikan ke dalam jaringan listrik. Peningkatan ini mendukung prioritas operasional PLN dalam menstabilkan sistem kelistrikan, mengurangi gangguan listrik, dan melindungi Indonesia dari fluktuasi harga bahan bakar fosil di pasar global. 2. Meningkatkan efisiensi energi nasionalMenggunakan energi secara lebih efisien merupakan salah satu faktor penting dalam memperkuat ketahanan energi. Untuk mendukung upaya yang dipimpin pemerintah dan PLN, UNOPS bersama para mitra melakukan audit efisiensi energi dan mendorong penyelarasan kebijakan melalui Just Energy Transition Partnership (JETP). Langkah ini membantu mengoptimalkan penggunaan listrik sehingga menurunkan permintaan energi secara keseluruhan di jaringan listrik, yang pada akhirnya memastikan pasokan energi yang lebih stabil dan terjangkau.3. Membuat industri Indonesia lebih hemat energiMeningkatkan efisiensi energi dalam proses produksi industri menjadi salah satu fokus dalam rencana energi nasional. Organisasi Pengembangan Industri PBB (UNIDO) bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk mengurangi kebutuhan energi nasional di sektor-sektor industri yang paling banyak menggunakan energi. Di sektor pupuk, penerapan langkah-langkah Resource Efficient and Cleaner Production (RECP) yang didukung UNIDO memungkinkan perusahaan-perusahaan peserta menghindari emisi setara 328.000 ton CO₂ per tahun, sekaligus menghasilkan penghematan biaya yang signifikan dan meningkatkan daya saing.Secara paralel, UNIDO mendukung Kementerian Perindustrian dalam pengembangan kawasan industri ramah lingkungan, termasuk dalam perencanaan kawasan, efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, daur ulang air limbah, pengelolaan sampah padat, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia untuk efisiensi penggunaan sumber daya. Upaya-upaya ini mengurangi tekanan terhadap pasokan energi Indonesia, memperkuat ketahanan, dan mendukung keamanan energi jangka panjang.Sementara itu, inisiatif UNOPS membantu meningkatkan ketahanan industri berat melalui pembangkit energi terbarukan di luar jaringan listrik (off-grid). Program ini mendukung pemerintah dalam merancang langkah-langkah transisi menuju energi yang lebih bersih bagi industri logam dan pertambangan. Hal ini juga membantu menjaga daya saing ekspor Indonesia di tengah penerapan tarif karbon lintas batas internasional.4. Memobilisasi pembiayaan SDGs untuk mendanai transisi energiRencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menetapkan target penambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 42,6 GW pada tahun 2034. Untuk mencapainya, dibutuhkan investasi sekitar 183–188 miliar dolar AS. Pemerintah Indonesia berupaya membuka akses pembiayaan skala besar untuk energi terbarukan dan ketahanan jaringan listrik melalui instrumen seperti obligasi SDGs, obligasi hijau (green bonds), pembiayaan campuran (blended finance), serta instrumen investasi berbasis peningkatan kredit (credit-enhanced investment tools), dengan dukungan dari PBB. Program Pembangunan PBB (UNDP) bermitra dengan pemerintah untuk mengembangkan mekanisme pembiayaan campuran yang mampu memobilisasi berbagai sumber pendanaan, mengurangi ketergantungan pada pasar bahan bakar fosil yang fluktuatif, serta memperluas pasokan energi bersih.5. Mendukung perencanaan tenaga kerja dan perlindungan sosial dalam diversifikasi energiKetahanan energi jangka panjang bergantung pada diversifikasi energi dan proses transisi yang stabil serta terkelola dengan baik. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) membantu sejumlah wilayah di Indonesia mewujudkan transisi energi yang adil melalui pembentukan platform konsultasi yang inklusif, identifikasi sektor ekonomi potensial untuk penciptaan lapangan kerja dan keterampilan baru, serta perlindungan pekerja terdampak melalui program peningkatan keterampilan (upskilling dan reskilling) dan perlindungan ketenagakerjaan.Langkah ini membantu mencegah gejolak akibat perpindahan tenaga kerja, menjaga stabilitas daerah, dan memastikan perubahan di sektor energi mendukung ketahanan nasional.Dengan fokus pada aspek manusia dan kelembagaan dalam peningkatan penggunaan energi terbarukan, UNOPS mendukung integrasi prinsip transisi yang adil ke dalam JETP. UNOPS juga mendanai program pengembangan tenaga kerja khusus untuk mempersiapkan pekerja memasuki ekonomi hijau. 6. Menghijaukan ekonomi biru Indonesia dengan teknologi energi bersihTeknologi bersih membantu menurunkan emisi sekaligus melindungi masyarakat pesisir dari fluktuasi harga bahan bakar. Melalui penggunaan mesin perahu listrik tenaga surya, kotak pendingin ramah lingkungan, dan fasilitas rantai dingin yang lebih baik, UNDP membantu lebih dari 2.400 nelayan skala kecil mengurangi biaya bahan bakar dan menstabilkan mata pencaharian mereka. Para nelayan juga mendapatkan pelatihan untuk menggunakan, mengelola, dan merawat teknologi tersebut sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.7. Membangun masyarakat yang tangguh terhadap perubahan iklim dengan teknologi rendah emisiMasyarakat yang tangguh terhadap perubahan iklim lebih siap menghadapi cuaca ekstrem, sehingga risiko terhadap infrastruktur energi dan keberlanjutan pasokan energi dapat dikurangi.UNDP membantu memasang solar mini-grid berkapasitas 1,1 MW di 22 desa terpencil, yang menyediakan listrik andal bagi 3.450 rumah tangga dan 22 fasilitas publik. Melalui program ini, biaya energi masyarakat turun hingga 40 persen, sementara emisi berkurang sebesar 1.800 ton CO₂ per tahun. Operator lokal, hampir separuhnya perempuan, dilatih untuk mengelola dan memelihara sistem tersebut, sehingga meningkatkan keandalan pasokan energi jangka panjang di wilayah yang jauh dari jaringan listrik nasional.Secara paralel, Program Kampung Iklim dari Kementerian Lingkungan Hidup yang didukung UNOPS telah menjangkau 285.000 warga di Sumatra Selatan. Masyarakat mendapatkan pelatihan mengenai energi terbarukan, teknologi rendah emisi, dan solusi ekonomi sirkular.8. Memberdayakan perempuan dan kelompok rentan untuk mengadopsi solusi energi bersihMembantu perempuan agar dapat berpartisipasi dalam transisi energi hijau merupakan salah satu tujuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Badan PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women) dan Badan PBB untuk Lingkungan Hidup (UNEP) telah mendukung lebih dari 400 pemimpin komunitas dan wirausahawan perempuan dalam mengadopsi teknologi ramah iklim, seperti pengeringan tenaga surya, biogas untuk memasak, dan pompa air tenaga surya. Upaya-upaya ini menempatkan perempuan sebagai agen perubahan dalam mitigasi dan adaptasi iklim. Ketahanan energi untuk mendukung SDGs“Mulai dari modernisasi jaringan listrik hingga efisiensi industri, dari pembiayaan transisi energi hingga sistem tenaga surya berbasis masyarakat, PBB bermitra dengan Pemerintah Indonesia untuk mendukung upaya luar biasa dalam memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Gita Sabharwal, Kepala Perwakilan PBB di Indonesia. “Inisiatif-inisiatif ini mengurangi ketergantungan pada pasar energi global yang bergejolak, meningkatkan keandalan pasokan energi, dan memastikan bahwa masyarakat, mulai dari pusat-pusat industri besar hingga desa-desa terpencil, ikut berkontribusi dalam membangun masa depan yang lebih tangguh.” Artikel ini pertama kali dipublikasikan di situs UN News, https://news.un.org/en/story/2026/06/1167784 tanggal 22 Juni 2026
1 of 5
Cerita
26 Mei 2026
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan PBB Dukung Pelaku Usaha Lokal Menjadi Pemasok Global
Mulai dari produk makanan dan jasa logistik, hingga teknologi digital dan layanan konsultasi, peluang bagi pelaku usaha Indonesia untuk menembus pasar pengadaan global kini berkembang sangat pesat. Meskipun banyak perusahaan Indonesia yang sebenarnya sudah memenuhi syarat untuk menjadi pemasok resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kontribusi mereka saat ini baru mencapai 0,7% dari total pengadaan global melalui platform United Nations Global Marketplace (UNGM).Untuk meningkatkan persentase tersebut dan mendukung para calon pemasok potensial, pemerintah Indonesia—dengan dukungan dari PBB di Indonesia—menyelenggarakan seminar International Procurement Connect di Jakarta pada awal bulan ini. Hampir 100 pelaku usaha berpartisipasi dalam acara ini.Sebagai bagian dari langkah strategis Indonesia untuk memperkuat ekosistem pengadaan barang dan jasa publik yang inklusif serta berdaya saing global, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) menyelenggarakan sebuah seminar untuk mendukung para pelaku usaha lokal agar mampu bersaing di kancah internasional dan memperluas peran mereka dalam jaringan pengadaan global. Inisiatif ini sejalan dengan reformasi pengadaan publik yang sedang dilakukan oleh LKPP, seperti percepatan digitalisasi, peningkatan transparansi (keterbukaan), dan pembukaan kesempatan yang lebih luas untuk para pelaku usaha.Bagi banyak peserta, seminar ini memberikan manfaat yang sangat praktis dan menjawab kebutuhan yang selama ini sulit diakses: yaitu pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana sistem pengadaan internasional sebenarnya bekerja. Setiap tahun, PBB membelanjakan sekitar 20 hingga 25 miliar USD di seluruh dunia melalui platform UNGM. Pada tahun 2024, pelaku usaha dari Indonesia telah berkontribusi sekitar 192 juta USD atau sekitar 0,7% dari total belanja tersebut. Salah satu contoh nyata pelaku usaha Indonesia yang berhasil menjadi pemasok PBB adalah PT Mega Global Food Industry (MGFI), yang memproduksi biskuit tinggi energi untuk Program Pangan Dunia (WFP) di Afganistan. “Indonesia sebenarnya telah memiliki banyak produk dan jasa dengan daya saing global yang kuat. Hal yang sering kali dibutuhkan oleh para pelaku usaha Indonesia adalah akses yang lebih luas terhadap informasi, jaringan, serta pemahaman mengenai sistem pengadaan internasional,” kata Muhammad Aris Supriyanto, Deputi Bidang Pengembangan Strategi dan Kebijakan LKPP.Mulai dari memahami persyaratan tender hingga cara mendaftar di platform, seminar ini memberikan panduan langkah demi langkah bagi para pelaku usaha untuk mempersiapkan diri dalam meraih peluang internasional. Sesi-sesi dalam seminar ini mencakup proses pendaftaran vendor, standar pengadaan, dokumen yang diperlukan, serta bagaimana perusahaan dapat meningkatkan daya saing mereka dalam proses tender global.Salah satu sesi yang paling banyak menarik perhatian peserta dalam seminar ini adalah saat penjelasan proses teknis pendaftaran vendor di platform UNGM, serta testimoni dari perusahaan-perusahaan Indonesia yang telah bekerja sama dengan badan-badan PBB. Dalam sesi testimoni tersebut, para perwakilan pelaku usaha secara terbuka membagikan pengalaman mereka saat mengikuti tender internasional, tantangan yang dihadapi, hingga berbagai keuntungan yang didapatkan setelah berhasil menjadi vendor resmi PBB. PT Dimensi Prima Global menceritakan bagaimana kontrak kerja sama mereka dengan badan-badan PBB, termasuk UNICEF, telah membuka jalan untuk bersaing memperebutkan Long-Term Agreements (LTA) atau Perjanjian Jangka Panjang dengan UNICEF Indonesia, serta mengikuti berbagai tender di kawasan Asia Tenggara. Meskipun belum berhasil memenangkan kontrak di negara-negara lain, perusahaan ini sempat lolos seleksi awal (pre-selected) untuk mengirimkan sampel boneka kayu (alat peraga edukatif) dalam sebuah tender di Timor-Leste. Hal ini menunjukkan adanya potensi yang sangat menjanjikan bagi mereka untuk menembus pasar regional. Pengalaman berharga ini juga sukses memperkuat kredibilitas perusahaan, sekaligus menjadikan mereka lebih kompetitif dalam meraih peluang dengan organisasi internasional lainnya di masa mendatang.Dorongan Mewujudkan Rantai Pasok yang Lebih InklusifDi luar urusan peluang bisnis, seminar ini juga menyoroti minat yang terus tumbuh dalam memajukan sistem pengadaan yang inklusif. Di lingkungan PBB, proses pengadaan kini semakin dilihat tidak hanya dari kacamata efisiensi, transparansi (keterbukaan), dan nilai manfaat (value for money), tetapi juga dengan mempertimbangkan aspek Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI). Diskusi ini menyadari bahwa upaya membangun ekosistem pengadaan yang benar-benar inklusif masih terus berproses. Meskipun keterlibatan pelaku usaha perempuan telah menunjukkan peningkatan positif dalam berbagai inisiatif pengadaan, upaya untuk memperluas peluang bagi pelaku usaha orang dengan disabilitas, wirausaha muda, serta pemasok dari wilayah terpencil masih menghadapi tantangan yang lebih besar akibat adanya hambatan struktural, pasar, maupun aksesibilitas. Oleh karena itu, penguatan ekosistem pemasok yang lebih inklusif menuntut adanya kolaborasi berkelanjutan, pembelajaran, serta penyempurnaan sistem secara bertahap yang melibatkan sinergi lintas organisasi."Kami berupaya memastikan bahwa peluang pengadaan dapat diakses oleh kalangan usaha yang lebih luas—termasuk UMKM, pengusaha perempuan, pelaku usaha orang dengan disabilitas, serta para pelaku usaha baru. Memperluas partisipasi ini sangatlah penting untuk memastikan agar manfaat dari pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata," kata Matthew Johnson-Idan, Kepala Kantor Perwakilan PBB di Indonesia. "Seiring dengan pasar global yang semakin terhubung, inisiatif semacam ini hadir untuk membantu para pelaku usaha Indonesia agar tidak lagi melihat pengadaan internasional sebagai sesuatu yang jauh atau mustahil dijangkau, melainkan sebagai sebuah peluang nyata yang terus berkembang."
1 of 5
Siaran Pers
29 Oktober 2026
LAPORAN PBB: Alam Mulai Pulih, tetapi Dunia Harus Bergerak Lebih Cepat untuk Memenuhi Target Restorasi
Yerevan, 29 Oktober 2026 – Laporan PBB yang diterbitkan hari ini menemukan bahwa 252 juta hektare (ha) lahan di 149 negara sedang direstorasi. Upaya ini telah menciptakan lebih dari satu juta lapangan kerja hijau dan merupakan upaya restorasi global terbesar yang pernah terdokumentasi hingga saat ini.Untuk memenuhi komitmen tahun 2030, aksi harus ditingkatkan dengan cepat, dengan fokus khusus pada ekosistem air tawar, laut, dan pesisir. Pendanaan restorasi tahunan juga harus meningkat lebih dari empat kali lipat. Investasi ini diperkirakan dapat menciptakan hingga 32 juta lapangan kerja baru di seluruh dunia pada tahun 2030.Laporan berjudul Nature's comeback – scaling ecosystem restoration for people and planet ini diterbitkan di pertengahan Dekade PBB untuk Restorasi Ekosistem (2021–2030). Laporan ini menyajikan penilaian global komprehensif pertama atas kemajuan menuju komitmen untuk merestorasi sekitar satu miliar hektare lahan. Laporan ini juga menilai kemajuan menuju target Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, yaitu memastikan bahwa pada tahun 2030 setidaknya 30 persen ekosistem darat, air tawar, laut, dan pesisir yang terdegradasi berada di bawah restorasi yang efektif.Laporan ini diterbitkan bersama oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Program Lingkungan PBB (UNEP), dan Sekretariat Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD). Peluncurannya dilakukan dalam acara tingkat tinggi selama Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP17). Dalam acara tersebut, lima inisiatif unggulan di Tiongkok, Kolombia, Etiopia, Italia, dan Amerika Serikat dianugerahi gelar UN World Restoration Flagships (Program Unggulan Restorasi Dunia PBB). Penghargaan ini menyoroti keberhasilan gerakan restorasi di berbagai belahan dunia."Hari ini, kita menyaksikan cikal bakal salah satu gerakan terbesar bagi alam sepanjang sejarah yang tercatat," ujar Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP. "Namun, di titik tengah Dekade PBB untuk Restorasi Ekosistem, kita masih belum merestorasi alam dalam skala maupun kecepatan yang dibutuhkan. Pada tahun 2030, kita harus mengubah berbagai inisiatif yang menginspirasi menjadi aksi yang menyeluruh secara sistem, yakni beralih ke ekonomi restorasi yang melindungi apa yang tersisa dan memulihkan apa yang telah terdegradasi."Gerakan global untuk merestorasi alam tidak hanya mencakup program nasional, tetapi juga melibatkan kota, sekolah, dunia usaha, dan inisiatif masyarakat. Sejak dimulainya Dekade PBB untuk Restorasi Ekosistem, jaringan kemitraannya telah berkembang menjadi lebih dari 300 organisasi di seluruh kawasan."Selama lima tahun berjalannya Dekade PBB, pesannya jelas: restorasi berhasil," kata Direktur Jenderal FAO, QU Dongyu. "Tantangannya adalah menjadikan restorasi bagian tak terpisahkan dari pengelolaan lahan, air, dan sumber daya alam yang berkelanjutan, serta mewujudkan transformasi sistem pangan pertanian yang koheren. Ekosistem yang sehat sangat penting untuk produksi yang lebih baik, gizi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik bagi semua, tanpa ada seorang pun yang tertinggal."Restorasi ekosistem sangat penting bagi ketahanan pangan dan air, ketahanan iklim, lapangan kerja, dan kesejahteraan. Di seluruh jenis ekosistem, Asia menyumbang 192,2 juta ha dari total area restorasi yang terdokumentasi. Asia diikuti oleh Afrika (36,3 juta ha), Eropa (9,1 juta ha), Amerika Utara dan Tengah (5,8 juta ha), Amerika Selatan (5,4 juta ha), serta Oseania (3,2 juta ha). Perbedaan ini bukan peringkat kinerja restorasi. Angka-angka ini mencerminkan skala kegiatan restorasi, luas wilayah daratan di setiap kawasan, serta kapasitas pemantauan dan pelaporan.Penelitian menunjukkan bahwa merestorasi hanya 15 persen dari kawasan prioritas global dapat menangkap dan menyimpan 30 persen emisi setara karbon dioksida (CO₂) sejak revolusi industri. Langkah ini juga dapat membantu mencegah 60 persen kepunahan spesies. Keberhasilan yang terdokumentasi di antara UN World Restoration Flagships mencakup pemulihan berbagai spesies, mulai dari gorila gunung di Afrika Timur dan jaguar di Brasil hingga macan tutul salju di Kirgistan dan lumba-lumba Sungai Gangga di India.Menurut laporan tersebut, kemajuan restorasi bervariasi antarekosistem dan antarnegara. Restorasi ekosistem darat telah mencapai hampir separuh dari target global, yaitu 30 persen ekosistem darat yang terdegradasi berada di bawah restorasi pada tahun 2030. Tiongkok melaporkan area restorasi darat terluas (127,4 juta ha), sementara area yang cukup luas juga terdokumentasi di Mongolia dan Kazakhstan.Kemajuan jauh lebih terbatas pada ekosistem air tawar, laut, dan pesisir, yang juga mengalami degradasi paling cepat. Hanya 11 juta ha ekosistem air tawar di 62 negara dan 5,7 juta ha ekosistem laut dan pesisir di 46 negara yang terdokumentasi sedang direstorasi. Meski demikian, momentumnya terus tumbuh. Sejak tahun 2022, proporsi Para Pihak yang melaporkan pelaksanaan program restorasi atau rehabilitasi lahan basah meningkat dari 8 persen menjadi 54 persen. Laporan ini mengingatkan bahwa terbatasnya pelaporan restorasi ekosistem perairan dapat menyebabkan angka tersebut lebih rendah dari kenyataannya.Merestorasi alam demi ketahanan dan kesejahteraan manusia membutuhkan komitmen politik yang berkelanjutan. Pendanaan restorasi tahunan juga perlu meningkat lebih dari empat kali lipat, dari US$64 miliar menjadi US$296 miliar pada tahun 2030. Perkiraan kebutuhan investasi tahunan terbesar terdapat pada agroforestri (US$87 miliar), reforestasi restoratif (US$52 miliar), restorasi lahan gambut (US$44 miliar), dan restorasi padang lamun (US$28 miliar)."Kita tidak bisa berharap memperbaiki alam dengan satu tangan sementara merusaknya dengan tangan yang lain," ujar Astrid Schomaker, Sekretaris Eksekutif Sekretariat Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD). "Pemerintah harus mengatasi faktor-faktor pendorong degradasi ekosistem dan berinvestasi dalam mekanisme pemantauan untuk memastikan keberlanjutan gerakan restorasi yang telah berjalan sejauh ini."Setelah tahun 2030, restorasi harus dipertahankan cukup lama agar integritas ekosistem dan keanekaragaman hayati dapat pulih, sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Kepastian hak atas lahan dan partisipasi yang bermakna sangat penting bagi restorasi yang berkelanjutan. Demikian pula penghormatan terhadap hak, pengetahuan, dan kepemimpinan Masyarakat Adat serta pemegang hak lainnya.Laporan ini menegaskan bahwa fase berikutnya dari Dekade PBB untuk Restorasi Ekosistem harus melampaui proyek-proyek individual dan menuju "ekonomi restorasi". Ekonomi restorasi adalah ekonomi yang mampu menopang pemulihan ekologis, mata pencaharian, dan nilai jangka panjang dalam skala besar.Kumpulan data yang mendasari laporan ini dihimpun dari dua sumber. Sumber pertama adalah data yang disahkan pemerintah dan disampaikan melalui proses pelaporan global. Sumber kedua adalah data yang dilaporkan oleh inisiatif-inisiatif restorasi kepada Framework for Ecosystem Restoration Monitoring (FERM) milik FAO yang bisa diakses melalui link berikut: https://www.unep.org/en/news-and-stories/press-release/nature-making-comeback-world-must-move-faster-meet-restoration
-SELESAI-
CATATAN UNTUK EDITORTentang Dekade PBB untuk Restorasi Ekosistem
Majelis Umum PBB telah menetapkan periode 2021–2030 sebagai Dekade PBB untuk Restorasi Ekosistem. Dekade ini dipimpin oleh Program Lingkungan PBB dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB dengan dukungan para mitra. Tujuannya adalah mencegah, menghentikan, dan membalikkan hilangnya serta degradasi ekosistem di seluruh dunia, termasuk memulihkan miliaran hektare ekosistem darat dan perairan. Sebagai seruan aksi global, Dekade PBB ini menghimpun dukungan politik, riset ilmiah, dan kekuatan finansial untuk memperluas restorasi secara masif.
-SELESAI-
CATATAN UNTUK EDITORTentang Dekade PBB untuk Restorasi Ekosistem
Majelis Umum PBB telah menetapkan periode 2021–2030 sebagai Dekade PBB untuk Restorasi Ekosistem. Dekade ini dipimpin oleh Program Lingkungan PBB dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB dengan dukungan para mitra. Tujuannya adalah mencegah, menghentikan, dan membalikkan hilangnya serta degradasi ekosistem di seluruh dunia, termasuk memulihkan miliaran hektare ekosistem darat dan perairan. Sebagai seruan aksi global, Dekade PBB ini menghimpun dukungan politik, riset ilmiah, dan kekuatan finansial untuk memperluas restorasi secara masif.
1 of 5
Siaran Pers
27 Oktober 2026
Peringatan UN Day 2026: Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia-PBB Menuju Masa Depan Berkelanjutan
Jakarta, Indonesia — Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Kantor Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Indonesia tegaskan kemitraan strategis Indonesia–PBB dalam mendukung prioritas nasional dan menjawab tantangan global, pada peringatan Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Day) 2026 di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta (27/10). Mengusung tema “Indonesia and the United Nations: Leadership for Our Common Future”, peringatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman publik mengenai peran PBB dalam kerangka kemitraannya dengan Indonesia.Kegiatan ini berlangsung atas kerja sama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bersama PBB Indonesia dan Indonesia Global Compact Network (IGCN), dihadiri oleh perwakilan unsur pemerintah, badan-badan PBB, korps diplomatik, mitra pembangunan, akademisi, serta generasi muda. Momentum UN Day 2026 dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran kolektif mengenai krusialnya multilateralisme dan kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan masa depan yang inklusif dan berkelanjutan. Dalam sambutan pembuka, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arrmanatha Nasir, menegaskan komitmen Indonesia terhadap PBB. “Komitmen Indonesia terhadap PBB bukanlah sekadar kepraktisan, melainkan mandat dari Konstitusi. Kita mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke tempat-tempat yang rawan. Kita telah bertugas sebanyak empat kali di Dewan Keamanan PBB. Kita memperjuangkan UNCLOS, kita memperjuangkan hak asasi manusia, dan kita turut menjaga akuntabilitas PBB dengan menjadi anggota Dewan Auditor,” ujar Menlu Arrmanatha Nasir.Menlu turut menekankan perlunya lembaga tersebut untuk terus bertransformasi menghadapi tantangan zaman seperti pekerjaan yang terus berkembang, kecerdasan buatan (AI), ekonomi gig, serta mendorong generasi muda untuk mengambil tanggung jawab penuh dalam mewujudkan masa depan dunia yang lebih aman dan adil. “Kita lihat ekonomi gig. Jutaan anak muda kini menggantungkan penghidupannya melalui aplikasi. Fleksibel? Ya. Namun seringkali tanpa jaminan kontrak, tanpa perlindungan, dan tanpa ruang bersuara. Dunia kerja saat ini sedang berubah [sehingga] aturan kerja pun harus ikut menyesuaikan. Masa depan dunia kerja harus bermartabat, dan PBB harus membantu mewujudkannya”, imbuhnya.Pesan tersebut diperkuat melalui keynote speech oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Sugiono, yang menyoroti peningkatan taraf hidup masyarakat melalui sinergi erat dengan PBB. Menko PMK menyampaikan bahwa kemitraan ini mendukung program prioritas, mencakup peningkatan taraf kesehatan, perluasan kesempatan belajar dan pengembangan diri, serta penguatan kesiapsiagaan bencana. Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Gita Sabharwal, menekankan bahwa tantangan global saat ini menuntut pembaruan sistem kerja sama multilateral agar tetap adaptif di tengah dunia yang bergerak cepat.“Seiring Indonesia memasuki babak baru pembangunan, dengan ambisi yang semakin besar, kapasitas yang semakin kuat, dan pengaruh yang semakin luas, PBB juga harus terus berkembang sejalan dengan kemajuan tersebut. Nilai tambah kami terletak pada kemampuan menjalankan peran yang secara khusus dapat dilakukan oleh PBB, yaitu menyatukan keahlian global, standar internasional, kemitraan, dan pembiayaan untuk mendukung prioritas pembangunan Indonesia. Ketika Indonesia turut membentuk masa depan multilateralisme, generasi mudanya juga tengah membentuk masa depan Indonesia. Seiring Indonesia berubah, PBB pun harus berubah bersamanya, “Pada kesempatan tersebut, turut dilaksanakan peluncuran publikasi “Letters to 2045: A Message to Our Future”, sebuah kompilasi aspirasi dan pemikiran generasi muda Indonesia mengenai masa depan multilateralisme yang dikurasi bersama oleh Kementerian Luar Negeri dan UNRCO.Sebagai bagian dari rangkaian acara, diselenggarakan pula dialog panel interaktif lintas generasi bertajuk “Indonesia and the United Nations: Shaping Our Common Future”. Sesi ini mempertemukan perwakilan pemerintah, organisasi internasional, dan kaum muda untuk mendiskusikan peran strategis Indonesia dan PBB. Dialog tersebut menghadirkan Direktur HAM dan Migrasi Kementerian Luar Negeri; Asisten Deputi Peningkatan Gizi dan Pencegahan Stunting Kemenko PMK; Chief of Mission IOM Indonesia; serta perwakilan generasi muda seperti Kornelius Sembiring (IOM Youth Changemakers Indonesia), Zagy Berian (Founder Society of Renewable Energy), dan Ratu Tisha (Wakil Ketua Umum II PSSI). Para narasumber menggarisbawahi pentingnya memastikan kerja sama multilateral berdampak langsung bagi masyarakat, serta pentingnya pelibatan aktif generasi muda dalam menyongsong visi masa depan menuju 2045.Selain dialog panel, kegiatan juga diisi dengan pertunjukan budaya dan pameran interaktif kerja sama Indonesia-PBB yang melibatkan Kementerian Luar Negeri, Kemenko PMK, Badan-Badan PBB, dan sektor swasta, yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan UN Day 2026.Peringatan UN Day 2026 menegaskan kembali pentingnya kemitraan Indonesia-PBB dan kepemimpinan bersama dalam memperkuat multilateralisme, mendorong perdamaian, serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Melalui kolaborasi lintas generasi dan lintas pemangku kepentingan, Indonesia dan PBB terus berupaya membangun masa depan bersama yang lebih inklusif dan berkelanjutan.-SELESAI-Sumber: Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
1 of 5
Siaran Pers
24 Oktober 2026
Monas, Borobudur dan Ibu Kota Nusantara (IKN) bersinar biru serukan perdamaian dan solidaritas global
JAKARTA, 23 Oktober 2026 – Tiga bangunan ikonik paling dikenal di Indonesia malam ini diterangi cahaya biru untuk memperingati Hari Lahir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang jatuh pada 24 Oktober. Cahaya Biru Perserikatan Bangsa-Bangsa (#UNBlue) menghubungkan lokasi-lokasi ikonik yang melambangkan kemerdekaan, keramahtamahan, warisan budaya, dan masa depan Indonesia.Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, Candi Borobudur di Jawa Tengah, dan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur berpartisipasi dalam kampanye #UNBlue tahun ini, bertepatan dengan peringatan hari jadi ke-81 PBB. Biru adalah warna bendera PBB yang telah menjadi lambang perdamaian dan harapan. Di tiga lokasi ini, penyalaan cahaya biru merupakan bentuk solidaritas bagi mereka yang kehidupannya terguncang akibat perang dan bencana. Cahaya tersebut juga merupakan simbol dukungan bagi dunia yang menjadi tempat bagi setiap orang untuk dapat hidup bermartabat.“Dari Monas hingga Borobudur sampai Ibu Kota Nusantara, kita semua memiliki cerita. Menerangi tempat-tempat ini dengan warna biru PBB menghubungkan cerita tersebut dengan sesuatu yang lebih besar,” ujar Miklos Gaspar, Direktur Pusat Informasi PBB (UNIC) di Jakarta. “Perdamaian tidak hanya ditentukan di meja perundingan. Perdamaian bergantung pada cara kita memperlakukan satu sama lain, menyikapi perbedaan, dan kesediaan kita untuk bekerja sama” tambahnya. Di Monas, cahaya biru akan menghubungkan perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan harapan masyarakat di berbagai penjuru dunia untuk hidup bebas dan damai. Monumen ini menghormati tekad bangsa Indonesia untuk menentukan masa depannya sendiri. Banyak bangsa telah melalui perjuangan serupa yang erat kaitannya dengan cita-cita yang mendasari berdirinya PBB.Tahun ini, untuk pertama kalinya Ibu Kota Nusantara (IKN) akan berpartisipasi dalam #UNBlue, membawa ibu kota masa depan Indonesia ke dalam kampanye solidaritas global ini. Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara, Basuki Hadimuljono, menegaskan bahwa visi IKN untuk masa depan yang lebih hijau, aman, dan berkelanjutan selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB.Ia menyoroti komitmen kota tersebut terhadap keberlanjutan lingkungan melalui pembangunan perkotaan hijau dan mobilitas ramah lingkungan, dengan inisiatif seperti Nusantara Fun Ride yang mendorong gaya hidup lebih sehat serta pengurangan emisi karbon. Dengan menyalakan cahaya biru PBB, IKN menegaskan kembali komitmennya terhadap solidaritas global dan pembangunan berkelanjutan.Penyalaan cahaya biru ini juga menggemakan pesan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres untuk Hari PBB: “Masa depan umat manusia bergantung pada kemampuan kita untuk bekerja bersama demi memajukan perdamaian, pembangunan, dan Hak Asasi Manusia (HAM).” Dalam pesannya, Sekjen PBB menyerukan agar negara-negara memilih dialog daripada perpecahan, kerja sama daripada konfrontasi, solidaritas daripada ketakutan, serta menjunjung tinggi Piagam PBB. Dari monumen kemerdekaan, candi terbesar, hingga ibu kota negara yang masih dibangun, tiga lokasi tersebut merentang dari masa lalu hingga masa depan Indonesia. Pada Hari PBB, cahaya birunya menjadi pengingat sederhana bahwa kerja sama dimulai dengan mengakui kemanusiaan yang kita miliki bersama. Tahun lalu, tiga lokasi ikonis di Indonesia termasuk di antara 200 monumen di seluruh dunia yang diterangi cahaya biru untuk memperingati Hari PBB.
1 of 5
Siaran Pers
19 Oktober 2026
Guterres Beri Penghormatan kepada Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia, Serukan Kerja Sama Multilateral yang Lebih Kuat
JAKARTA, 19 Oktober 2026 — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres memberikan penghormatan kepada pasukan penjaga perdamaian Indonesia dalam kunjungan resminya ke Indonesia, dengan meletakkan karangan bunga bagi mereka yang gugur dalam tugas serta bertemu dengan pasukan yang bersiap diberangkatkan ke Republik Afrika Tengah.
Di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI di Sentul, Guterres menyampaikan terima kasih kepada personel Indonesia atas keberanian dan profesionalisme mereka. Indonesia merupakan negara kontributor terbesar keenam bagi misi pemeliharaan perdamaian PBB, dengan hampir 2.000 personel berseragam yang bertugas di tujuh misi.
"Saya datang ke sini hari ini untuk memberikan penghormatan kepada seluruh personel penjaga perdamaian Indonesia atas keberanian mereka dalam menjalankan misi penting mereka," ujarnya kepada para prajurit.
Di antara mereka yang ditemuinya adalah personel yang akan segera bergabung dengan MINUSCA, misi PBB di Republik Afrika Tengah, tempat pasukan penjaga perdamaian bertugas melindungi warga sipil dan membantu membuka ruang bagi solusi politik.
Guterres meletakkan karangan bunga untuk menghormati empat personel penjaga perdamaian Indonesia yang gugur di Lebanon tahun ini, serta banyak lainnya yang telah memberikan pengorbanan tertinggi saat bertugas di bawah bendera PBB.
"Pengabdian dan pengorbanan mereka tidak akan pernah dilupakan," ujarnya. "Tidak seorang pun seharusnya kehilangan nyawa saat mengabdi demi perdamaian."
Ia menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang, serta menyerukan adanya akuntabilitas. "Saya akan terus menyerukan kepada Negara-Negara Anggota untuk menjalankan kewajiban mereka dalam menjamin keselamatan dan keamanan personel PBB setiap saat," kata Sekretaris Jenderal.
Ia juga berterima kasih kepada Indonesia yang akan menjadi tuan rumah bersama Pertemuan Tingkat Menteri PBB tentang Pemeliharaan Perdamaian (UN Peacekeeping Ministerial) tahun depan bersama Belanda.
Selama kunjungannya, Guterres bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang pada 18 Oktober dan Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir pada 19 Oktober untuk membahas penguatan kerja sama antara Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
"Saya datang ke Indonesia dalam misi untuk menyampaikan terima kasih dan pengakuan. Indonesia adalah pilar multilateralisme di dunia kita yang terus berubah. Rumah bagi keberagaman budaya yang luar biasa. Negara ekonomi berkembang dengan pengaruh yang terus tumbuh. Pembangun jembatan politik dan diplomatik — di tingkat kawasan, global, dan di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Serta suara, dan teladan, bagi perdamaian," ujarnya kepada awak media.
Dalam pidato tentang Masa Depan Multilateralisme di Kementerian Luar Negeri, Guterres menyebut Indonesia sebagai pilar multilateralisme serta pembangun jembatan diplomatik yang diakui dan dihormati di PBB dan di luarnya. Ia menyerukan reformasi Dewan Keamanan dan lembaga-lembaga keuangan internasional agar negara-negara berkembang dan negara-negara ekonomi berkembang memiliki suara yang sepadan dengan bobot mereka di dunia saat ini.
"Namun jawaban atas kekecewaan yang semakin dalam terhadap multilateralisme bukanlah mengurangi multilateralisme," ujarnya. "Melainkan multilateralisme yang lebih baik."
Guterres menyebut empat bidang yang paling membutuhkan kemajuan bersama: perdamaian, pembiayaan pembangunan, aksi iklim, dan kecerdasan artifisial. Ia mengapresiasi upaya Indonesia dalam pembiayaan pembangunan yang inovatif serta dukungannya bagi hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, dan mendesak pelaksanaan penuh rencana perdamaian Gaza serta mempertahankan solusi dua negara.
"Dalam semua hal ini, kita membutuhkan teladan, suara, dan kepemimpinan Indonesia yang kuat di panggung global untuk membantu memperbarui semangat multilateral, serta mendorong pembangunan, perdamaian, dan keadilan dalam kehidupan masyarakat," ujarnya.
Di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI di Sentul, Guterres menyampaikan terima kasih kepada personel Indonesia atas keberanian dan profesionalisme mereka. Indonesia merupakan negara kontributor terbesar keenam bagi misi pemeliharaan perdamaian PBB, dengan hampir 2.000 personel berseragam yang bertugas di tujuh misi.
"Saya datang ke sini hari ini untuk memberikan penghormatan kepada seluruh personel penjaga perdamaian Indonesia atas keberanian mereka dalam menjalankan misi penting mereka," ujarnya kepada para prajurit.
Di antara mereka yang ditemuinya adalah personel yang akan segera bergabung dengan MINUSCA, misi PBB di Republik Afrika Tengah, tempat pasukan penjaga perdamaian bertugas melindungi warga sipil dan membantu membuka ruang bagi solusi politik.
Guterres meletakkan karangan bunga untuk menghormati empat personel penjaga perdamaian Indonesia yang gugur di Lebanon tahun ini, serta banyak lainnya yang telah memberikan pengorbanan tertinggi saat bertugas di bawah bendera PBB.
"Pengabdian dan pengorbanan mereka tidak akan pernah dilupakan," ujarnya. "Tidak seorang pun seharusnya kehilangan nyawa saat mengabdi demi perdamaian."
Ia menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang, serta menyerukan adanya akuntabilitas. "Saya akan terus menyerukan kepada Negara-Negara Anggota untuk menjalankan kewajiban mereka dalam menjamin keselamatan dan keamanan personel PBB setiap saat," kata Sekretaris Jenderal.
Ia juga berterima kasih kepada Indonesia yang akan menjadi tuan rumah bersama Pertemuan Tingkat Menteri PBB tentang Pemeliharaan Perdamaian (UN Peacekeeping Ministerial) tahun depan bersama Belanda.
Selama kunjungannya, Guterres bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang pada 18 Oktober dan Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir pada 19 Oktober untuk membahas penguatan kerja sama antara Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
"Saya datang ke Indonesia dalam misi untuk menyampaikan terima kasih dan pengakuan. Indonesia adalah pilar multilateralisme di dunia kita yang terus berubah. Rumah bagi keberagaman budaya yang luar biasa. Negara ekonomi berkembang dengan pengaruh yang terus tumbuh. Pembangun jembatan politik dan diplomatik — di tingkat kawasan, global, dan di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Serta suara, dan teladan, bagi perdamaian," ujarnya kepada awak media.
Dalam pidato tentang Masa Depan Multilateralisme di Kementerian Luar Negeri, Guterres menyebut Indonesia sebagai pilar multilateralisme serta pembangun jembatan diplomatik yang diakui dan dihormati di PBB dan di luarnya. Ia menyerukan reformasi Dewan Keamanan dan lembaga-lembaga keuangan internasional agar negara-negara berkembang dan negara-negara ekonomi berkembang memiliki suara yang sepadan dengan bobot mereka di dunia saat ini.
"Namun jawaban atas kekecewaan yang semakin dalam terhadap multilateralisme bukanlah mengurangi multilateralisme," ujarnya. "Melainkan multilateralisme yang lebih baik."
Guterres menyebut empat bidang yang paling membutuhkan kemajuan bersama: perdamaian, pembiayaan pembangunan, aksi iklim, dan kecerdasan artifisial. Ia mengapresiasi upaya Indonesia dalam pembiayaan pembangunan yang inovatif serta dukungannya bagi hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, dan mendesak pelaksanaan penuh rencana perdamaian Gaza serta mempertahankan solusi dua negara.
"Dalam semua hal ini, kita membutuhkan teladan, suara, dan kepemimpinan Indonesia yang kuat di panggung global untuk membantu memperbarui semangat multilateral, serta mendorong pembangunan, perdamaian, dan keadilan dalam kehidupan masyarakat," ujarnya.
1 of 5
Siaran Pers
29 September 2026
Pameran Keliling PBB Angkat Sejarah Perbudakan Kolonial dan Perlawanan di Indonesia
Jakarta, 29 September 2026 - Pusat Informasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIC) di Indonesia dan Universitas BINUS hari ini membuka rangkaian pameran poster bertajuk Slavery: Ten True Stories of Dutch Colonial Slavery (Perbudakan: Sepuluh Kisah Nyata Perbudakan Kolonial Belanda) yang dikembangkan oleh Rijksmuseum di Amsterdam. Dipamerkan di Universitas BINUS pada tanggal 29–30 September, pameran ini mengajak mahasiswa dan masyarakat luas untuk menyelami sejarah perbudakan melalui kisah hidup individu; termasuk mereka yang diperbudak, mereka yang melakukan perlawanan, serta mereka yang mengambil keuntungan dari sistem tersebut.Kisah-kisah dalam pameran ini menjangkau wilayah Belanda, Indonesia, Suriname, Karibia, dan berbagai tempat lain yang terhubung dengan penjajahan Belanda. Benda-benda bersejarah yang ditampilkan mengungkapkan bagaimana perbudakan membentuk kehidupan di seluruh jaringan ini. Beberapa kisah mengarah langsung ke Nusantara, termasuk Batavia, Kepulauan Banda, dan Jawa.Di antaranya adalah Untung Surapati, yang diperbudak di Bali lalu melarikan diri dari Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) di Batavia. Untung memelopori perlawanan terhadap kekuasaan kolonial. Pada akhirnya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia, menjadikan kisahnya sebagai representasi sosok yang dikenal luas dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kisah lainnya mengangkat nasib enam individu yang diperdagangkan dari Teluk Benggala dan disebarkan melalui jaringan VOC, termasuk ke wilayah Batavia dan Kepulauan Banda. Direktur UNIC Indonesia, Miklos Gaspar, mengatakan: “Kita perlu membicarakan sejarah perbudakan agar orang-orang yang mengalaminya tidak terlupakan, dan agar kita dapat memahami bagaimana ketidakadilan pada masa itu sempat dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Pelajaran tersebut sangat penting saat ini. Perbudakan tidak hanya terbatas di masa lalu: masih ada orang-orang yang menjadi korban atas praktik kerja paksa, dan berbagai bentuk perbudakan modern lainnya. Mengingat sejarah ini akan memperkuat komitmen kita untuk melindungi kebebasan semua orang.”Sebuah diskusi yang digelar bersamaan dengan pembukaan pameran ini, bertajuk “Perbudakan, Masa Lalu dan Masa Kini: Menghadapi Ketidakadilan Sejarah dan Bentuk Eksploitasi Kontemporer,” mempertemukan sejarawan Asep Kambali, Miklós Gáspár, dan Dr. Lili Yulyadi, B.IRK., B.HSc., M.HSc. Para pembicara mendiskusikan keterkaitan perbudakan kolonial Belanda dengan Indonesia, serta bagaimana pengalaman individu dilestarikan dan direpresentasikan. Mereka juga membahas apa yang dapat diajarkan oleh sejarah ini kepada kita tentang eksploitasi masa kini dalam kaitannya dengan tanggung jawab bersama.Bagi Universitas BINUS, menjadi tuan rumah bagi pameran dan diskusi ini memberikan kesempatan kepada para mahasiswa untuk mengeksplorasi sejarah melalui pengalaman individu, sekaligus merefleksikan bagaimana masa lalu terus membentuk pemahaman kita tentang kebebasan, martabat, dan tanggung jawab. Program ini juga mendorong generasi muda untuk terlibat dengan kisah dan materi sejarah sekaligus mempertimbangkan relevansinya bagi masyarakat saat ini. “Pameran dan diskusi ini menawarkan kesempatan bagi kita untuk memahami perbudakan tidak hanya sebagai sebuah sistem sejarah, tetapi melalui pengalaman orang-orang yang melewatinya. Dengan menggali kisah-kisah mereka, memori sejarah, dan makna kebebasan, kami berharap mahasiswa dan masyarakat luas dapat merefleksikan martabat manusia dan bagaimana pemahaman kita tentang masa lalu dapat membentuk rasa tanggung jawab kita hari ini,” kata Rini Setiowati, Wakil Rektor Bidang Kolaborasi & Keterlibatan Global, Universitas BINUS.Kerangka Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa melarang perbudakan dan perdagangan budak dalam segala bentuknya. Pada bulan Maret 2026, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi 80/250, yang membahas perdagangan dan perbudakan berbasis rasial terhadap orang-orang Afrika, serta menyerukan upaya peringatan, pendidikan, dan penelitian yang lebih kuat mengenai sejarah tersebut beserta dampaknya yang berkepanjangan. Meskipun resolusi tersebut membahas sejarah yang spesifik, penekanannya pada kebenaran dan pendidikan memperkuat betapa pentingnya mempelajari sejarah perbudakan lainnya, termasuk yang berkaitan erat dengan Indonesia.“Salah satu kisah yang menarik perhatian saya adalah kisah Untung Surapati. Saya belajar bagaimana dia diperbudak di Bali, melarikan diri dari VOC di Batavia, dan kemudian menjadi tokoh yang melawan penjajahan. Kisahnya menunjukkan kepada saya bahwa pameran ini bukan hanya tentang perbudakan, melainkan juga tentang beragam pengalaman dan perjuangan orang-orang yang mengalaminya,” ujar Felicia Chritsty, mahasiswa Komunikasi Pemasaran, B29, Universitas BINUS.Setelah pembukaannya di Universitas BINUS pada 29–30 September, pameran ini direncanakan akan berlanjut ke Monas pada 23–25 Oktober — bertepatan dengan momen Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Day) — dan kemudian ke salah satu pusat perbelanjaan (mal) di Jakarta pada 5–8 November 2026.
1 of 5
Latest Resources
1 / 11
Sumber Daya
30 Oktober 2026
Sumber Daya
22 Mei 2026
1 / 11