A silhouette of a person in profile, appearing thoughtful with a hand on their chin. The image is overlaid with digital graphics of brain icons, data charts, and technology interface elements, symbolizing artificial intelligence, data analysis, and innovation. A warm orange light highlights the head, emphasizing ideas and intelligence.

Kecerdasan Buatan (AI) - Isu Global PBB

As AI becomes more prevalent, coordinated global governance is needed to maximise benefits and manage associated risks.
Photo: © Adobe Stock/metamorworks

 


 

Terang dan bayang dari AI: Utamakan manusia, bukan keuntungan

Sekretaris Jenderal PBB menegaskan bahwa nasib manusia tidak boleh ditentukan oleh mesin algoritma yang tidak transparan. Keputusan penting harus tetap berada di tangan manusia untuk melindungi hak asasi semua orang. Pesan ini terlihat jelas dalam empat bidang utama AI generatif yang menjadi perhatian PBB.

  • Perdamaian dan Keamanan: Disinformasi yang dibuat dengan bantuan AI membahayakan operasi perdamaian dan kemanusiaan PBB, serta menempatkan staf dan warga sipil dalam bahaya. Dalam survei terbaru, lebih dari 70% pasukan penjaga perdamaian PBB menyatakan bahwa informasi palsu sangat menghambat mereka menjalankan tugas.
  • Pelanggaran Hak Asasi Manusia: AI juga dipakai untuk membuat dan menyebarkan konten berbahaya, seperti materi pelecehan seksual anak dan gambar pornografi tanpa persetujuan, terutama yang menargetkan perempuan. PBB juga prihatin karena AI generatif bisa memperkuat konten berisi kebencian, seperti anti-Semit, Islamofobia, rasisme, dan xenofobia.
  • Terancamnya Demokrasi: AI berpotensi digunakan untuk memanipulasi pemilih dan memengaruhi opini publik selama pemilu sehingga menimbulkan ancaman serius terhadap proses demokrasi di seluruh dunia.
  • Merusak ilmu pengetahuan dan institusi publik: AI juga bisa dipakai untuk memperkuat kampanye disinformasi yang sudah lama ada, misalnya untuk menggagalkan aksi iklim dan energi terbarukan.

AI dan sistem PBB

 


 

AI dan pendidikan

Kecerdasan buatan (AI) mengubah banyak aspek hidup kita. Teknologi ini memberikan layanan yang berharga, mulai dari pengenalan gambar hingga pemecahan masalah dan kreativitas. Walaupun berbagai kapasitas AI ini dapat mendukung Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, namun di saat yang sama juga menimbulkan kekhawatiran terkait etika. Masalah seperti bias atau keputusan yang tidak adil, ancaman terhadap hak asasi manusia, dan dampak iklim dapat semakin parah bagi kelompok-kelompok yang terpinggirkan. Untuk itu, UNESCO mengeluarkan Rekomendasi tentang Etika AI guna mengatasi tantangan ini di tingkat global.

Di bidang pendidikan, AI dapat membantu guru mengatasi berbagai tantangan dan mengubah metode mengajar supaya lebih efektif, sehingga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-4. Namun, perkembangan teknologi yang sangat pesat telah melampaui kecepatan pengembangan aturan dan kebijakan. Untuk menghadapi tantangan ini, UNESCO membuat Kerangka Kompetensi Digital (Digital Competency Framework) agar guru dan pegawai negeri sipil dapat lebih terampil dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.

AI dan keadilan

Pengadilan punya peran penting dalam mengatur penggunaan AI. Mereka menangani masalah etika, seperti bias dan transparansi, sekaligus memanfaatkan AI untuk memperbaiki akses terhadap keadilan. Program Hakim UNESCO menyediakan sumber daya pelatihan untuk membantu pengadilan dalam menghadapi isu-isu kompleks ini, sehingga memperkuat standar internasional tentang AI dan hak asasi manusia.

 

A tractor working a field with a computerized image on top.

Photo: Adobe Stock/metamorworks

 

AI dan pembangunan

Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) aktif ikut dalam diskusi global tentang kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital. Kegiatan ini mencakup penerapan Global Digital Compact dan mengikuti rekomendasi dari Badan Penasihat Tingkat Tinggi Sekretaris Jenderal untuk AI. UNDP bekerja sama dengan Kelompok Kerja Antar-Lembaga PBB untuk AI dan bermitra dengan organisasi seperti Persatuan Telekomunikasi Internasional dan UNESCO.

Di berbagai negara, UNDP mendorong penggunaan AI untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Misalnya, Accelerator Labs memakai AI untuk menganalisis data dari satelit dan drone. Dengan cara ini, mereka dapat mendeteksi penyakit tanaman di Kamerun dan Cabo Verde, mendeteksi area penumpukan sampah di Guatemala, Filipina, Serbia, dan Vietnam, serta membuat peta penggunaan lahan di Ekuador dan India.


 

AI untuk pekerja

Perkembangan AI dapat memperbesar kesenjangan ekonomi antara negara dengan penghasilan tinggi dan rendah. Meskipun AI memiliki potensi besar untuk mendorong inovasi dan produktivitas, investasi dan penerapan teknologi AI yang tidak merata membuat negara berpenghasilan tinggi cenderung akan memperoleh manfaat jauh lebih besar dibandingkan negara berpenghasilan menengah dan rendah.

Kesenjangan ini, yang terlihat jelas terutama di Afrika, berisiko memperdalam ketimpangan sosial dan ekonomi yang sudah ada, karena negara-negara berkembang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur digital dan akses terhadap pendidikan berkualitas. Untuk menjawab tantangan ini, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyoroti tiga pilar kebijakan utama: memperkuat infrastruktur digital, mendorong alih teknologi, serta membangun keterampilan di bidang AI.

Negara-negara berkembang membutuhkan perangkat digital yang kuat untuk mendukung adopsi AI, sementara negara berpenghasilan tinggi diharapkan dapat membantu melalui transfer pengetahuan teknologi. Investasi di bidang pendidikan dan pelatihan menjadi kunci untuk membekali tenaga kerja dengan keterampilan AI yang dibutuhkan.

Selain itu, membangun dialog sosial juga penting agar kemajuan teknologi tetap menghormati hak-hak pekerja dan meningkatkan kualitas pekerjaan. Laporan Mind the AI Divide: Shaping a Global Perspective on the Future of Work, yang ditulis bersama oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Perburuhan Internasional, menyerukan kolaborasi antara pembuat kebijakan, pemimpin industri, dan organisasi internasional untuk menciptakan masa depan berbasis AI yang adil dan inklusif.

 

A girl wearing a headphone set and taking an online course.

Photo: Adobe Stock/metamorworks

 

AI dan anak-anak

UNICEF meluncurkan inisiatif Generation AI untuk memastikan bahwa sistem AI menghormati hak-hak anak. Bekerja sama dengan mitra seperti Forum Ekonomi Dunia dan UC Berkeley, inisiatif ini berfokus pada upaya memaksimalkan peluang bagi anak-anak sekaligus meminimalkan risiko yang terkait dengan teknologi AI.

UNICEF telah menyusun panduan kebijakan untuk mendorong perlindungan hak-hak anak dalam kebijakan dan praktik AI. Panduan ini menekankan pentingnya memperhatikan kebutuhan dan hak-hak anak dalam pengembangan serta penerapan sistem AI.

 

Virtual videoconference with a doctor.

Photo: Adobe Stock/metamorworks

 

AI dan kesehatan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerbitkan pedoman komprehensif mengenai penggunaan AI secara etis di bidang kesehatan. Kerangka ini memuat prinsip-prinsip untuk memastikan bahwa teknologi AI dirancang dan diterapkan dengan cara yang mengutamakan kesejahteraan manusia serta menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Bekerja sama dengan International Telecommunication Union (ITU), WHO membentuk inisiatif ini guna menyediakan wadah bagi para pemangku kepentingan untuk berdiskusi dan menyusun standar bagi penerapan AI di layanan kesehatan, sehingga potensi AI dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

 

Farmer looking at a tablet in the field.

Photo: Adobe Stock/metamorworks

 

AI dan makanan

AI Sandbox milik World Food Programme (WFP) berfungsi sebagai ruang uji coba untuk berbagai proyek AI, sehingga memungkinkan organisasi untuk dapat menilai kelayakan dan dampak solusi AI sebelum diterapkan. Pendekatan ini memastikan hanya alat AI yang efektif dan bertanggung jawab yang digunakan.

Dikembangkan bersama Google Research, SKAI (Satellite Intelligence) memanfaatkan AI dan citra satelit untuk memberikan gambaran real-time dalam respons bencana dan bantuan kemanusiaan, sehingga mempercepat sekaligus meningkatkan akurasi penilaian kerusakan.

Bekerja sama dengan Alibaba Group, WFP memperkenalkan Hunger Map LIVE, yakni sistem pemantauan kelaparan global berbasis AI yang mampu memprediksi dan melacak tingkat keparahan kelaparan di lebih dari 90 negara, sehingga mendukung intervensi yang lebih tepat waktu dan terarah.

 

Group of people with a computer-generated image of the planet Earth above them.

Photo: Adobe Stock/metamorworks

 

AI dan pengungsi

Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) memanfaatkan AI dan big data untuk meningkatkan respons kemanusiaan melalui Data Innovation Programme, yang menyediakan layanan dan pelatihan tentang penggunaan data secara etis serta bekerja sama dengan berbagai mitra untuk mengeksplorasi pendekatan-pendekatan inovatif.

Selain itu, Project Jetson merupakan alat analisis prediktif yang menggunakan AI untuk memperkirakan pergerakan penduduk, sehingga memungkinkan UNHCR mengantisipasi dan bersiap menghadapi potensi arus pengungsi, sekaligus memperkuat strategi respons.

UNHCR juga tengah mengeksplorasi penggunaan chatbot berbasis AI untuk meningkatkan komunikasi dengan pengungsi, dengan menyediakan informasi dan bantuan secara cepat melalui interaksi otomatis yang tetap bersifat personal.

 

A Smart warehouse management system using augmented reality technology to identify package picking and delivery.

PAdobe Stock/Alex Pios

 

AI dan sektor swasta

United Nations Global Compact merupakan sebuah inisiatif sukarela yang didasarkan pada komitmen para CEO untuk menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan universal serta mengambil langkah nyata dalam mendukung tujuan-tujuan PBB. Inisiatif ini mendorong perusahaan di seluruh dunia untuk menyelaraskan operasi dan strategi mereka dengan sepuluh prinsip universal di bidang hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan, dan anti-korupsi. Saat ini, Global Compact menjadi inisiatif keberlanjutan dan tanggung jawab sosial korporasi terbesar di dunia.

Menjelang 2030, solusi inovatif menjadi kunci untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Sektor swasta, yang menyumbang lebih dari 60% PDB global, memiliki peran penting dalam mendorong inovasi dan pemanfaatan Generative AI (Gen AI) untuk pembangunan berkelanjutan.

Laporan “Gen AI untuk Tujuan Global” dari UN Global Compact memberikan panduan bagi para pemimpin sektor swasta untuk menerapkan Gen AI secara bertanggung jawab sekaligus menciptakan nilai bisnis. Laporan ini memuat strategi praktis, studi kasus, serta wawasan dalam mengelola risiko Gen AI, disertai sumber daya yang dapat membantu implementasi yang bertanggung jawab.

Artikel ini pertama kali diterbitkan di halaman situs resmi PBB berjudul “Global Issues – Artificial Intelligence (AI)” yang dapat diakses melalui tautan berikut: https://www.un.org/en/global-issues/artificial-intelligence

Sumber Daya

UN entities involved in this initiative

ITU
Persatuan Telekomunikasi Internasional
OHCHR
OHCHR
UN Global Compact
United Nations Global Compact
UN
United Nations
UNCTAD
United Nations Conference on Trade and Development
UNDP
Program Pembangunan PBB
UNEP
Program Lingkungan PBB
UNESCO
Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB
WHO
World Health Organization
WIPO
World Intellectual Property Organization

Tujuan yang kami dukung lewat prakarsa ini