Yang Terhormat para hadirin,
Sungguh menggugah inspirasi melihat seberapa jauh Koalisi Makanan Sekolah telah berkembang. Dengan lebih dari 100 pemerintah yang bekerja bersama untuk memperluas dan meningkatkan program strategis ini, Koalisi ini telah menjadi salah satu bentuk mobilisasi global paling sukses dalam beberapa tahun terakhir.
Pertama, saya ingin mengapresiasi kepemimpinan yang telah membawa kita ke titik ini—terutama dari tiga ketua bersama: Brasil, Prancis, dan Finlandia—yang dukungan awal dan berkelanjutannya sangat penting bagi keberhasilan Koalisi ini.
Saya juga ingin memberikan apresiasi kepada seluruh pemerintah dalam Koalisi yang secara konsisten bekerja untuk memperluas dan memperkuat program makanan sekolah mereka—dan yang telah menunjukkan kemajuan nyata dan terukur sejak pertemuan Stocktake terakhir.
Para pembicara hari ini adalah contoh luar biasa.
Kemajuan yang kita lihat ini dipimpin oleh pemerintah, tapi mereka tidak berjalan sendirian.
Para mitra dalam Koalisi Makanan Sekolah bekerja bergandengan tangan dengan pemerintah untuk mewujudkan komitmen nasional mereka.
Namun, mengapa program makanan sekolah mendapat perhatian sebesar ini? Mengapa begitu banyak pemerintah dan mitra menjadikannya prioritas?
Karena makanan sekolah bukan sekadar sepiring makanan. Ini adalah alat untuk membangun sistem pangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, serta membekali generasi berikutnya dengan kesehatan, gizi, dan pendidikan yang mereka butuhkan untuk mencapai potensi mereka.
Untuk benar-benar memaksimalkan potensi ini, kita perlu fokus pada empat prioritas utama.
Pertama: Perluas jangkauan dan tingkatkan ambisi bersama
Seperti yang baru saja kita dengar dari para pembicara, momentum sedang tumbuh. Selain pemerintah yang hadir di panggung, ada negara-negara seperti Rwanda yang telah mencapai cakupan makanan sekolah hampir menyeluruh untuk jenjang sekolah dasar, dan Indonesia yang sedang memperluas program dengan kecepatan luar biasa—semua menunjukkan apa yang mungkin dicapai.
Kini, Aliansi Global Melawan Kelaparan dan Kemiskinan telah bergabung dengan Koalisi Makanan Sekolah untuk menggerakkan pemerintah dan mitra pembangunan mencapai target global yang ambisius: menjangkau 150 juta anak tambahan di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah pada tahun 2030, seperti yang telah disepakati dalam G20 tahun lalu.
Ini berarti kita harus beralih dari komitmen ke aksi nyata—dengan Koalisi Makanan Sekolah dan Aliansi Global mendampingi negara-negara yang siap menjadi pelopor.
Kedua: Maksimalkan potensi program ini—gunakan pengadaan pangan untuk transformasi sistem pangan
Negara-negara terus memanfaatkan potensi program makanan sekolah untuk mempercepat transformasi sistem pangan, termasuk melalui target ambisius dalam pengadaan dari petani kecil. Tapi kita harus melangkah lebih jauh: menyelaraskan menu makanan sekolah dan pengadaannya dengan tujuan gizi, keberlanjutan, dan sosial; menggunakan solusi memasak bersih di sekolah; mengurangi limbah dan kehilangan makanan; serta menyertakan pendidikan pangan, gizi, dan iklim di sekolah.
Ketiga: Integrasikan makanan sekolah dalam pembiayaan iklim
Jika dirancang secara berkelanjutan, program makanan sekolah memiliki potensi besar untuk mendukung mitigasi dan adaptasi perubahan iklim—dan juga melestarikan keanekaragaman hayati. COP30 di Brasil menjadi peluang bagi kita untuk mengangkat program makanan sekolah dari titik buta iklim menjadi bagian dari solusi iklim.
Mari kita upayakan agar program ini masuk dalam Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC) di masa mendatang dan menjadi bagian dari skema pembiayaan iklim sebagaimana mestinya.
Keempat: Tutup kesenjangan pembiayaan
Komitmen Sevilla, yang diadopsi beberapa minggu lalu, mengajak kita semua untuk menjembatani kesenjangan antara ambisi dan kemampuan pendanaan.
Namun, dengan 35 negara berpendapatan rendah dan menengah yang menghadapi risiko tinggi atau sedang mengalami krisis utang, kita perlu mengeksplorasi solusi pembiayaan inovatif—mulai dari pajak kesehatan dan pendapatan dari sumber daya alam, hingga skema tukar utang dan investasi dari Bank Pembangunan Multilateral.
Kita bisa belajar banyak dari berbagai inovasi yang telah terjadi di berbagai negara selama dua tahun terakhir sejak kita terakhir bertemu di Roma, sebagaimana dilaporkan dalam Laporan UNFSS+4 dari Sekretaris Jenderal.
Mari kita manfaatkan momentum dari Komitmen Sevilla untuk menarik pembiayaan yang dibutuhkan.
Saya ingin menutup dengan sebuah semboyan kuat dari seorang sahabat dan advokat tangguh, Ndidi Nwuneli dari ONE Campaign: “Tugas kita bukan memperbesar kerja kita, tapi memperbesar hal yang sudah terbukti berhasil.”
Itulah yang kita lihat di Koalisi Makanan Sekolah: pemerintah dan mitra bergandengan tangan memperluas solusi yang telah terbukti berhasil.
Mari kita lanjutkan kemajuan yang telah kita capai—dan tuntaskan apa yang telah kita mulai sejak tahun 2021: pada tahun 2030, setiap anak menerima makanan sehat dan bergizi di sekolah.
Mari kita beri makan masa depan—bersama.
Terima kasih.