Selamat Hari PBB ke-80, 2025 - Pidato Kepala Perwakilan PBB, Gita Sabharwal
-----
Yang Terhormat, Bapak Tri Tharyat, Direktur Jenderal, Kementerian Luar Negeri,
Yang Terhormat Duta Besar Umar Hadi, Perwakilan Tetap RI untuk PBB di New York,
Bapak Heru Hartanto, Direktur Jenderal, Kementerian Luar Negeri,
Prof. Dr. dr. Yuda Taruna, Rektor Unika Atma Jaya,
Yang Mulia,
Rekan-rekan dari PBB,
Serta para pemuda hebat yang hadir di ruangan ini,
Selamat Pagi.
Hari PBB datang setiap tahun sebagai pengingat atas keputusan besar yang diambil setelah masa penuh gejolak — keputusan untuk membangun dunia yang lebih baik dengan bekerja sama.
Bulan lalu, Presiden Prabowo berdiri di hadapan Majelis Umum PBB dan mengingatkan para pemimpin dunia tentang prinsip dasar dan janji dari berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Seruan beliau yang kuat dan penuh semangat untuk menumbuhkan harapan menggema di seluruh dunia — bukan hanya karena semakin besarnya peran Indonesia di panggung global, tetapi juga karena kejelasan dan keyakinan dari pesan yang disampaikan.
Pesan yang menegaskan pentingnya tatanan multilateral, di mana perdamaian, kemakmuran, dan kesetaraan bukanlah hak istimewa segelintir orang, tetapi hak setiap manusia.
Pesan optimisme bahwa dengan bekerja bersama, kita bisa mengakhiri kelaparan, menghapus kemiskinan, dan melindungi lingkungan.
Dan pesan bahwa anak-anak kita sedang memperhatikan — dan mereka akan belajar dari keputusan yang diambil para pemimpin hari ini.
Kontribusi Indonesia terhadap perdamaian dan keamanan dunia, sebagai penyumbang kelima terbesar pasukan penjaga perdamaian PBB, adalah wujud nyata dari visi tersebut. Komitmen inilah yang kita hormati hari ini melalui peluncuran prangko peringatan yang baru saja diresmikan.
Tahun ini, Hari PBB memiliki makna yang lebih mendalam.
Tahun 2025 menjadi istimewa karena menandai 75 tahun Indonesia bergabung dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa — sebuah tonggak sejarah yang mengundang kita untuk merenung sekaligus merayakan.
Kita melihat kembali sejarah panjang dan membanggakan kepemimpinan Indonesia di dunia.
Dari Konferensi Bandung yang bersejarah, yang menghidupkan semangat Piagam PBB dan membentuk dialog global berdasarkan solidaritas,
hingga kontribusi pertama Indonesia untuk misi penjaga perdamaian pada tahun 1957 di bawah UN Emergency Force di Sinai,
serta peran penting Indonesia dalam perumusan Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Pact for the Future.
Kemitraan Indonesia dengan PBB mencerminkan keyakinan mendalam bahwa multilateralisme adalah kekuatan untuk kebaikan — dan alat paling kuat yang kita miliki untuk memberikan hasil nyata bagi manusia dan bumi.
Untuk menandai kemitraan yang telah terjalin lama ini, hari ini bersama Kementerian Luar Negeri, kami meluncurkan token peringatan 75 tahun kemitraan Indonesia–PBB.
Terbuat dari tembaga dan seng yang ditambang di Indonesia, token ini menjadi simbol nyata dan abadi dari perjalanan bersama kita — ditempa dari tanah Indonesia, dibentuk melalui kemitraan, dan dirancang untuk bertahan lama.
Kerangka Kerja Sama Pembangunan Indonesia–PBB yang baru ditandatangani menjadi arah bagi upaya kita untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Untuk mempercepat pencapaian SDGs, fokus kami adalah pada bidang-bidang di mana PBB dapat memberikan nilai tambah, sepenuhnya selaras dengan prioritas nasional Indonesia.
Kami bekerja pemerintah untuk mendukung:
- Pembangunan manusia,
- Aksi iklim, dekarbonisasi, dan ketahanan, serta
- Transformasi digital dan ekonomi.
Melalui inisiatif UN80, kami memperkuat kapasitas kami, mengoptimalkan kehadiran kami di Indonesia, dan berfokus pada solusi yang strategis, berdampak luas, serta berakar pada kemitraan.
PBB di masa mendatang akan terlihat berbeda — dan kami siap beradaptasi dengan perubahan zaman.
Dan tak ada tempat yang lebih tepat untuk memperingati Hari PBB selain di universitas — di antara para pemimpin masa depan.
Indonesia memiliki lebih dari 130 juta penduduk berusia di bawah 30 tahun.
Bonus demografi ini akan membawa transformasi besar bagi negeri ini.
Kalian akan memasuki dunia yang penuh perubahan — menghadapi transformasi ekonomi dan digital, perubahan di pasar kerja, serta semakin mendesaknya aksi iklim.
Namun jangan ragu — kalian bukan hanya pewaris masa depan, tetapi juga pembentuknya. Anak muda Indonesia kini tampil di garis depan dengan ide, energi, dan kepemimpinan.
Hari ini, kita merasa terhormat hadir bersama Zagy Berian, anggota Youth Climate Advisory Group dari Sekretaris Jenderal PBB.
Sebagai pemimpin di bidang social impact, Zagy bersama kelompok mahasiswa Indonesia yang dinamis tengah menghadirkan solusi energi terbarukan berbasis tenaga surya dan air untuk mempercepat transisi menuju energi bersih.
Zagy menunjukkan kepada kita seperti apa kepemimpinan anak muda dalam aksi nyata.
Kita membutuhkan lebih banyak contoh seperti ini. Lebih banyak suara. Lebih banyak visi.
Kami di PBB berkomitmen untuk berjalan berdampingan dengan para pemuda — sebagai mitra, sekutu, dan pendukung dalam membangun masa depan yang inklusif dan berkelanjutan.
Saat kita merayakan 75 tahun kemitraan, kita diingatkan bahwa kemajuan tidak pernah dicapai sendirian.
PBB hanya sekuat kemitraan yang dibangunnya — dengan pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, dan terutama dengan masyarakat.
Indonesia telah menunjukkan seperti apa kemitraan yang berprinsip: berakar pada kepercayaan, digerakkan oleh tujuan bersama, dan berfokus pada hasil nyata.
Mari kita teruskan semangat itu saat kita bersama-sama membentuk masa depan yang layak bagi cita-cita yang kita junjung.
Terima Kasih.