Siaran Pers

Konferensi Pers PBB di World Water Forum 2024 - Sambutan Armida Salsiah Alisjahbana

21 Mei 2024

Sambutan oleh Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan Sekretaris Eksekutif ESCAP, Armida Salsiah Alisjahbana, pada Konferensi Pers PBB World Water Forum 2024 di Bali.

Bali, 21 Mei 2024

Selamat siang, rekan-rekan media,

Saya ingin menyampaikan beberapa komentar awal pada kesempatan World Water Forum ke-10.

Saya akan memulai dengan menyoroti beberapa aspek kunci dari tantangan yang kita hadapi.

Seperti yang kita tahu, air adalah kunci untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Tujuan 6 tentang air bersih dan sanitasi mendukung hampir semua tujuan lainnya, terutama Tujuan 1 dan 2 tentang kemiskinan dan kelaparan.

Namun, 2.2 miliar orang tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman, dan setengah dari populasi global tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang aman. UNICEF menginformasikan bahwa 700 anak balita meninggal setiap hari karena kurangnya layanan WASH yang layak. Akses WASH adalah fokus utama dari upaya Sistem PBB. Sebagai contoh, antara tahun 2020 dan 2024, UNICEF menyediakan lebih dari 23 juta orang dengan layanan air minum yang tahan iklim dan lebih dari 17 juta orang dengan layanan sanitasi yang tahan iklim.

Namun, memenuhi permintaan air untuk layanan WASH, dan untuk penggunaan lain, termasuk pertanian dan industri menjadi lebih menantang. Satu dari sepuluh orang tinggal di negara-negara dengan tingkat kesulitan air yang tinggi atau kritis.

Laporan Air Dunia terbaru dengan tema “Air untuk Perdamaian dan Kemakmuran” menunjukkan bahwa karena perubahan iklim, kelangkaan air musiman diproyeksikan akan meningkat bahkan di tempat-tempat yang sekarang berlimpah, seperti di Afrika Tengah, Asia Timur, dan beberapa bagian Amerika Selatan. Air akan menjadi lebih langka lagi di tempat yang pasokannya sudah terbatas. 

Pada saat yang sama, pelacakan kemajuan SDG oleh PBB menunjukkan bahwa sekitar 40 badan air yang dipantau memiliki kualitas air yang buruk.

Dikombinasikan dengan proyeksi peningkatan banjir, risiko terkait air untuk sektor ekonomi, kota, daerah pedesaan, dan masyarakat akan berlipat ganda, dan biayanya akan tinggi.

Saya ingin menyoroti dua cara untuk membantu memastikan bahwa kelangkaan air musiman, kekeringan, dan bencana yang berhubungan dengan air tidak menjadi krisis yang berkelanjutan.

Yang pertama adalah kerja sama dalam sumber air bersama. Upaya kolaboratif yang lebih baik antar negara, regional, sektor, dan pemangku kebijakan sangatlah dibutuhkan.

Selain memobilisasi sumber daya baru dan mendorong inovasi, kolaborasi dapat membantu menutup kesenjangan pembiayaan. Kemitraan pemerintah-swasta dalam efisiensi air, seperti yang diperjuangkan oleh UNIDO dapat membantu. 

Tindakan kolaboratif yang membawa agenda mitigasi, adaptasi, dan pengurangan risiko bencana, juga dapat membantu mempersempit kesenjangan pembiayaan. Kebutuhan pendanaan adaptasi yang belum terpenuhi diperkirakan oleh ESCAP mencapai $144,74 miliar per tahun, rata-rata untuk Asia dan Pasifik saja. 

Penilaian ilmiah merupakan fokus penting lainnya untuk kerja sama.

Bulan depan, kami menantikan peluncuran Forum Iklim Kutub Ketiga yang dipimpin oleh WMO yang akan menggembleng para ilmuwan terbaik dan para pelaku pembangunan yang paling kompeten di dunia dalam hal pencairan gletser.

Kedua, investasi dalam sistem data untuk peringatan dini sangat penting.

Data yang lebih baik untuk sistem peringatan dini yang efektif dapat mengurangi kerugian akibat bencana hingga 60 persen.

Mengikuti arahan pemerintah di kawasan Asia-Pasifik, sistem PBB bersatu untuk memberikan sistem peringatan dini multi-bahaya. ESCAP, Kantor PBB utntuk Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU), dan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) bekerja sama, sementara UNICEF memetakan cadangan air tanah sebagai masukan untuk perencanaan kesiapsiagaan dan adaptasi.

Sebagai penutup, saya ingin berbagi strategi tindakan yang akan dilakukan oleh PBB.

PBB menjalankan perannya dengan serius. Konferensi PBB pertama tentang air dalam lebih dari 50 tahun terakhir diselenggarakan di New York pada tahun 2023, menandai momen penting dalam wacana pembangunan berkelanjutan. 

Pertemuan Negara-negara Anggota PBB dan para pemangku kepentingan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menandakan dimulainya narasi baru dalam mengatasi tantangan terkait air. Salah satu hasil dari Konferensi Air PBB 2023 adalah lebih dari 830 janji sukarela untuk bertindak, Agenda Aksi Air 2023.

Setelah Konferensi penting ini, Negara-negara Anggota PBB mengadopsi sebuah resolusi yang mengakui pentingnya kerja sama air yang lebih baik, inklusif, dan transparan serta meminta Sekretaris Jenderal untuk merepresentasikan sebuah strategi air dan sanitasi yang komprehensif di seluruh sistem PBB.

Strategi ini akan diluncurkan secara resmi pada tanggal 16 Juli dalam Forum Politik Tingkat Tinggi tentang Pembangunan Berkelanjutan di New York.

Dikembangkan melalui upaya kolaboratif yang dipelopori oleh mekanisme koordinasi PBB untuk air dan sanitasi, UN-Water, strategi yang mencakup seluruh sistem ini akan meningkatkan ambisi dan memberikan dukungan yang lebih terintegrasi dan terkoordinasi kepada negara-negara anggota, sehingga dapat memperkuat dampak PBB.

Sebagai penutup, saya ingin menekankan bahwa saya hanya membagikan beberapa sorotan dari apa yang dilakukan PBB untuk mengatasi tantangan terkait air. Rekan-rekan saya dari bagian lain dari sistem PBB akan dapat berbagi rincian lebih lanjut.

Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada para anggota pers yang telah meluangkan waktu untuk bergabung dengan kami di Bali.

Selain itu, mewakili PBB, saya juga ingin menyampaikan penghargaan atas kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam menjadi tuan rumah Forum yang penting ini.

Terima kasih.

GenericSW

Siska Widyawati

UNIC
National Information Officer

Entitas PBB yang terlibat dalam kegiatan ini

ITU
Persatuan Telekomunikasi Internasional
UN ESCAP
United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific
UNDP
Program Pembangunan PBB
UNDRR
UN Office for Disaster Risk Reduction
UNESCO
Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB
UNICEF
Dana Anak-anak PBB
UNIDO
Organisasi Pengembangan Industri PBB
WMO
World Metereological Organization

Tujuan yang kami dukung lewat prakarsa ini